RSS

Sunday, March 4, 2012

Seberapa bermafaatkah aku?

*sebuah muhasabah diri

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

                Anak kecil selalu dapat menjadi inspirasi dan cermin bagi kita yang lebih tua. That’s why Aku suka banget sama anak kecil and I do love my nephews duo F uno R, Fatir and Faza  panglima serdam dan Ridho panglima Pemda. Walau setiap hari harus buang suara melihat tingkahnya (baru-baru ini melukis spongebob dikamar, membuat error bb, menghabiskan sisa kertas hvs dan lembar data siswa untuk membuat topeng). Tapi sepi juga ngga ada mereka di rumah.
                Sebuah pertanyaan yang diajukan Ridho kepada Mamanya membuatku berpikir, “Ido ni berguna nda mak?”
A Simple question but difficult to answer. Kakakku hanya bisa tersenyum dan menjawab “Kalo Ido nda berguna, mengapa mamak melahirkan ido?”
                Tercengang mendengar pertanyaan keponakan yang satu ini, yang juga membuatku bertanya sudah bergunakah diri ini? Seberapa besar manfaat yang sudah kita berikan kepada keluarga kita orang-orang terdekat disekitar kita dan saudara kita sesama muslim. Kita pasti sudah hafal sebuah hadist yang mengatakan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
            Mungkin, kita pernah merasa menjadi orang yang tak berguna, tidak diperlukan dan tidak penting.  Yah..perasaan dimana kita tidak bisa melakukan apa-apa ketika tahu ada saudara kita yang memerlukan bantuan.  Seandainya saja…,jika dulu…, atau mengapa…? Adalah kalimat yang sering kita ucapkan pada kondisi merasa diri tidak berguna atau tidak penting. Kita terus saja mengeluh dan berandai-andai mengapa kita tidak bisa membantu saat kita benar-benar dibutuhkan.
                Sebenarnya mengeluh saat kita kecewa ketika tidak bisa membantu orang lain adalah lumrah. Mengapa? Karena disitulah momentum untuk kita melakukan muhasabah diri. Apakah kita sadar bahwa dengan mengatakan hal-hal tersebut telah membuat kita maju satu langkah, yaitu kita harus mengubah diri kita untuk menjadi lebih bermanfaat. Sebuah sympathy dan empathy terhadap keadaan.   Sebuah awal jika kita dapat memanfaatkannya sehingga kita dapat bermanfaat. Moment dimana kita merasa tidak berguna dan mengolah situasi tersebut menjadi semangat baru.  Pertahankan semangat itu, jangankan biarkan lemau seperti kerupuk. Yaitu dengan membenarkan kata-kata kita. Memanusiawikan sifat ketika diri merasa tak berguna. Selagi sempat, masih ada waktu manfaatkanlah moment-moment dimana kita merasa tak berguna. Karena moment-moment itu akan membawa kita menjadi lebih baik dan berguna.
            Momen itulah yang membuat kita kembali bersemangat untuk mengerjakan impian. Tanggapilah dengan benar moment tersebut.. Dan jangan terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu tapi jadikan masa lalu bayangan pendorong untuk hidup lebih baik. Dan pikirkan hari disaat engkau masih bisa bernafas. Hari ini dan esok.


0 comments:

Post a Comment