RSS

Saturday, April 30, 2011

Memaknai Cinta

             Ada cerita seorang teman yang menceritakan bahwa temannya menangis ketika putus cinta. Begitu sedihnya Ia menangis, sehingga teman yang bercerita inipun turut menangis. Ketika sampai dirumah terbayang, tentang seorang siswiku yang menangis diruang kelas juga karena putus cinta dan kisah-kisah putus cinta lainnya yang kubaca, kudengar dan kulihat dimedia massa. Tapi aku hanya tersenyum, beginikah cara mereka memaknai cinta sesungguhnya?
          Cinta  adalah labirin yang membingungkan. Penuh lika-liku dan juga menyesatkan. Tetapi cinta adalah makna kebahagiaan bagi yang berhasil memaknainya dengan makna sejati layaknya mengalahkan labirin, keluar menuju alam bebas yang cerah penuh warna-warni kehidupan. Cinta adalah sebuah kata dengan berjuta makna. Cinta adalah gejolak jiwa yang penuh emosi. Cinta adalah harapan, harapan untuk selalu bertemu dan harapan untuk dekat dengan yang dicintai. Cinta  adalah puzzle ketika disatukan retakan-retakannya menjadi wujud yang indah. Cinta adalah gejolak jiwa yang terus menggelora sehingga menimbulkan harapan dan rela berkorban untuk yang dicinta. Karena cinta adalah pengorbanan, itulah makna cinta.
            Jatuh cinta adalah anugerah dengan berjuta rasa dimana dunia penuh bunga-bunga, hari-haripun berubah ceria dan hilanglah semua kesedihan serta muram durja yang ada hanya suka ria. Itulah yang kita rasakan ketika jatuh cinta, kita tidak pernah tau mengapa, yang jelas hanya satu rasa “bahagia”. Begitu bahagia sehingga susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Senyum lebar selalu menghiasi bibir  setiap detik, menit, jam, ya begitulah…saat jatuh cinta.
             Bersyukurlah ketika masih dapat  merasakan cinta. Karena hanya cinta yang dapat membuat si pengecut menjadi pemberani, si malas menjadi rajin, si jorok menjadi bersih, si cuek menjadi penuh perhatian, dan cinta membuat hati yang sedih menjadi bahagia. Cinta membuat Zulaikha gila dan para wanita rela memotong jarinya ketika memandang Yusuf as. Cinta yang membuat Fatimah aazzahra tak mampu berkata ketika Ali bin Abi Thalib  melamarnya. Cinta yang membuat Abu Thalhah rela  meninggalkan kekafiran demi Ummu Sulaim. Cinta merupakan sebuah hidayah, hidayah dari yang Kuasa. Maka, jangan pernah takut jatuh cinta karena jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian kita sebagaimana yang dikatakan Anis Mata dalam bukunya Serial Cinta.  
           Yang terbaik adalah  jatuh cinta dengan Rabb yang menciptakan kita.  Jatuh cinta dengan penguasa alam semesta Sang Pemilik Cinta. Jatuh cinta yang  dirasakan oleh para perindu surga. Rasulullah saw adalah sosok nyata cinta kepada RabbNya. Cinta yang beliau rasakan membuat rindu terus menggejolak dan selalu ingin bertemu Sang Pencipta. Cinta yang membuat beliau mempunyai harapan untuk terus berjuang dan berdakwah. Cinta yang membuat beliau rela berkorban sehingga ikhlas dilempar batu, disiksa, dan diusir dari negeri kelahirannya sendiri. Cinta yang membuat beliau risau jika tidak bermunajat di setiap malam beliau. Cinta yang membuat beliau juga mencintai apa yang dicintai oleh Rabbnya. Itulah rasa ketika jatuh cinta, kita mempunyai harapan sehingga hilanglah kebosanan dan kemalasan untuk terus meniti langkah dijalan-Nya. Cinta membuat kita pantang menyerah dan rela berkorban bahkan rela melakukan apapun untuk yang dicinta. Cinta membuat kita risau apabila dalam sehari tidak menyebut namaNya. Cinta yang membuat kita selalu ingin bertemu dan menatap wajahNya.
          Mari pejakan mata kita dan rasakan indahnya jatuh cinta. Rasakan gejolaknya dan rasakan detakannya. Bayangkan bahwa engkau akan bertemu dengan Rabb-mu. Berada disampingNya. Menatap wajahNya. Menyebut namaNya. Berbicara padaNya. Pasti engkau akan bersemangat untuk memulai harimu dengan penuh cinta. Karena ada sebuah harapan untuk bertemu dengan Sang Pencinta di surga indah tiada tara. Cinta yang abadi dimana kita tak akan pernah tersakiti. Inilah makna cinta sesungguhnya.

0 comments:

Post a Comment