Kata Ali bin Abi Thalib "ilmu diikat dengan tulisan".Ilmu tidak hanya dipelajari di sekolah, tapi ilmu dapat dipelajari dimana saja. Dari melihat, mengamati dan diskusi. Senangnya jika dapat teman yang senang berbagi ilmu dan senang mendiskusikan hal-hal baru yang didapat. Alhamdulillah, bagiku ini adalah minggu petuah. Banyak sekali ilmu yang aku dapat. Karena takut lupa apa kata-kata mereka, aku menuliskannya disini. Pertama, kelak ini akan menjadi pengingatku saat aku lupa, saat aku lemah, dan saat aku rapuh karena masalah-masalah yang kelak akan datang menghampiri. Kedua, semoga tulisan ini, nasehat ini dapat menjadi masukan untuk teman-teman yang sekedar mampir untuk membaca blog ini. Atau kebetulan bertemu dengan blog ini.
Finally October. Hari-hari itu semakin dekat. Bahkan bunyi detikan jam dinding terdengar lebih nyaring dari biasanya. Seperti mengingatkanku saja, bahwa lajangku tinggal menghitung hari. Berawal dari April dan berakhir Oktober. Mungkin bagi sebagian orang 6 bulan begitu singkat, bagi dua orang yang baru mengenal memutuskan untuk menikah, tapi sebagian mengatakan begitu lama, mereka mengatakan 3 bulan adalah waktu yang cukup jika diawali dari taaruf hingga walimahan. Seperti kata sang Rasul, segerakanlah menikah. Jujur aku juga ingin menyegerakan waktu 6 bulan itu, tapi ada hal yang tertunda, studiku, thesisku yang menunggu. Alhamdulillah, semua karena Allah dalam 3 bulan aku ngebut menulis hasil penelitian untuk menyelesaikan tesis. Bolak-balik kampus buat konsul yang terkadang di php sama dosenku. Tidur gak maksimal. Tetapi perjuangan itu terbalas, gelar dibelakang nama bertambah. Dan aku dapat fokus pada pernikahanku.
Kini oktober telah didepan mata. Undangan-undangan yang siap disebar telah tersusun rapi didalam kotak. Waktu semakin dekat. Bahkan dengan semakin dekatnya waktu, rasa takut bercampur dan khawatir bertambah. Kata Murobbiku, Hal itu wajar karena dulu dia juga begitu. Ini karena efek aku dan calon suamiku belum sepenuhnya kenal. Apalagi komunikasi tak seinsten orang-orang yang pacaran. Tapi ada Allah dalam proses ini, Insya Allah jika kelak aku dan calon suamiku dapat saling mengerti dan memahami, maka keberkahan akan menaungi.
Ketakutan dan kekhawatiran adalah tipu daya setan oleh karena itu murobbiku berpesan aku harus banyak tilawah. Saat berkeluargapun setan tak pernah menyerah, dibuatnya tingkah suami menjadi tak enak dipandang oleh mata dan kita tidak suka. Sehingga, kita tidak sadar apa yang keluar dari lisan saat berbicara atau saat membuat keputusan, oleh karena itu perempuan harus lebih banyak mengalah. Perbanyaklah istighfar, tambahnya. Jazakillah khair kakak atas nasehatnya. Insya Allah adek binaanmu ini akan berusaha menerapkan apa yang kau katakan.
Nasihat dari pengalaman hidup adalah pelajaran yang baling berarti. Aku bersyukur mengenal mereka yang mau berbagi pengalaman kepadaku yang masih awam. Aku memang masih harus banyak belajar. Karena kehidupan berkeluarga bukan hal yang kecil tapi kehidupan yang dipenuhi dengan tanggung jawab yang kelak harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya. Termasuk masalah materi, itu kata kakak tertuaku.
"Kelak dek, jika kamu menjadi istri..kamu harus sering mengingatkan suamimu agar memberimu dan anak-anakmu nafkah yang halal. Katakan kepada suamimu agar mengambil yang haknya saja. Jangan sekali-sekali dia memberimu yang bukan haknya. Mengapa? karena kamu dan anakmu tidak pernah tahu darimana uang atau makanan itu berasal. Yang kamu tahu hanya suamimu pergi bekerja dan pulang membawa uang. Lebih baik kita hidup sederhana, makan apa adanya, atau bahkan harus menahan lapar daripada kelak kita harus merasakan siksa neraka. Dan jangan kau memaksakan kehendakmu jika suamimu tidak mampu untuk memenuhinya. Apalagi kehendakmu itu membuat suamimu berhutang. Sedikitpun dek..sekecilpun dek.. jangan pernah berhutang. Jangan jadikan hutang sebagai kebiasaan. Karena sekali berhutang kamu akan ketagihan untuk berhutang" ujar kakakku ini panjang lebar. Aku mendengar dengan seksama dan menelaah kata-katanya. Tapi apa yang dia katakan sepenuhnya benar. Bahkan aku pernah membaca kisah ulama dimana istrinya berpesan aku masih mampu menahan lapar atupun menampal perut dengan batu, daripada menahan siksaan neraka. Jazakillah khair kakak atas masukan yang berharga ini.
Apakah ini kebetulan atau memang dirasakn oleh setiap istri. Aku mendapatkan nasehat yang sama dari kedua kakak ini. Nasehatnya adalah kalau kamu marah pada suamimu lebih baik diam. Boleh sekali-kali kamu berkata untuk mengingatkannya tapi hati-hatilah dalam memilih kata karena wanita penuh dengan emosi yang dapat dijadikan setan sebagai senjata buat menghancurkan mahligai rumah tangga. Maka jika emosimu meninggi, pilihlah diam. Mungkin diam akan menjadi solusi yang baik untuk masalah yang menerpa. Seperti kata pepatah diam adalah emas.
Pontianak, 2 Oktober 2014
21 hari sebelum hari H
Showing posts with label My Notcha. Show all posts
Showing posts with label My Notcha. Show all posts
Thursday, October 2, 2014
Sunday, September 7, 2014
Coretan Hidup 4 *Lemot Mengingat Wajah*
"Icha kan?" sapaku pada kasir yang melayani penukaran koin disalah satu pusat permainan di Pontianak. Senang rasanya bertemu dengan teman sebangku setelah bertahun-tahun berpisah.
"Maaf kak, salah orang" jawabnya.
"Icha, SMP 7 kan?" aku masih aja maksa dia mengingatku.
"Bukan kak.." jawabnya sambil senyam-senyum.
Jika mengingat kedodolanku salah menegur orang rasanya seperti naik bis lupa bawa uang. Apalagi jika orang yang ditegur tampak ngerumpi dengan temannya. Mulailah otak ini bergerilya mikir sana-sini, nebak pastilah dia lagi ngomongin aku.
Kejadian salah mengingat orang bukan yang pertama kali. Kelemotan ini sudah menghinggapi aku dari SMA. Tepatnya sejak mataku terbukti rabun jauh dan aku jarang pakai kaca mata. Sebenarnya ingin pake kaca mata, tapi kelamaan menggunakan pakai kaca mata kepalaku sering pusing. Sama halnya seperti aku kelamaan di pasar dan melihat keramaian. Makanya aku ngga suka lama-lama dipusat perbelanjaan, pesta, reunian atau ditempat dimana banyak orang lalu lalang. Untunglah, aku masih tahan berlama-lama duduk dengar cermah atau seminar. Kayaknya, aku pusing melihat yang bergerak dan ribut. Seperti halnya aku pusing kalo melihat keponakan-keponakanku lari-larian sambil teriak-teriakan dalam rumah. Soalnya aku ngga pernah pusing kalo nonton bioskop karena kalo pilemnya membosankan aku tidur hingga pilem berakhir. Ini adalah kisah lain yang memalukan, tidur di bioskop.
Keseringan salah nyapa orang, aku jadi malas negur kalo aku hanya merasa "kenal dengan orang yang aku temui" atau "merasa seseorang mirip dengan kenalanku." Jadinya, aku kadang dikira sombong.
Pernah ada yang bertanya padaku "gimana kalo aku nikah nanti? gimana kalo aku lupa suamiku?"
Aku juga tidak tahu gimana jawabnya, lihat nanti sajalah. Pengennya seperti pilem 50 first dates. Meski aku lupa, dia terus ingat.
Labels:
Coretan hidup,
Muhasabah,
My Notcha
Atas Nama HAM
Inilah negeriku, negeri penjunjung HAM
Islam sangat memuliakan wanita, bahkan islam memberi point-point yang harus diperhatikan dalam memilih pria untuk dijadikan sebagai calon suami. Silahkan telusuri di mbah gugel, mas yahoo. atau akhi yufid bagaimana memilih pria untuk dinikahi. Banyak sumber yang menuliskan hal tersebut dilengkapi dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist-hadist Rasulullah. Semua dijelaskan dengan sangat gamblang. Mengapa? karena seorang suami kelak akan menjadi penentu bagi sang istri, kemana tempat peristirahatan terakhir sang Istri di akhirat, surga atau neraka. Hal ini jelas dikatakan Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa sallam "sesungguhnya suamimu adalah surga atau nerakamu" (HR. Ahmad).
Satu persatu dihalalkan, Satu persatu dilegalkan
Tidak ada pembatas, Tidak ada pembeda
Inilah negeriku, negeri penjunjung HAM
Atas nama HAM semua berhak menuntut bahkan yang diharamkan oleh agama. Aku masih ingat ketika ada beberapa pihak yang menolak UU Pornografi dan Pornoaksi dengan mengatas namakan hak asasi manusia. Hingga ada yang rela membuka auratnya saat berdemo. Masih hangat juga berita pelegalan aborsi bagi korban pemerkosaan, kini 5 warga negara Indonesia menuntut jika perkawinan beda agama dilegalkan. Berpegang pada Undang-Undang Perkawinan Pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (detikNews.com), kelima orang dari universitas keren di Indonesia ini mengajukan permohonan ke MK.
Kehilangan identitas. Saat HAM diatas segalanya maka identitas diri semakin menipis yang terjadi hak-hak yang diperjuangkan bukannya menguntungkan tetapi malah merugikan.
Parahnya, mengapa selalu islam menjadi sasaran empuk. Seperti halnya salah satu penggunggat yang disorot adalah mahasiswi berjilbab (http://news.detik.com/read/2014/09/04/172535/2681642/10/1/ini-mahasiswi-fh-ui-berjilbab-yang-memohon-legalisasi-perkawinan-beda-agama). Let's forget about it, semoga yang membaca tidak terprovokasi memandang jelek agama yang sempurna ini.
Parahnya, mengapa selalu islam menjadi sasaran empuk. Seperti halnya salah satu penggunggat yang disorot adalah mahasiswi berjilbab (http://news.detik.com/read/2014/09/04/172535/2681642/10/1/ini-mahasiswi-fh-ui-berjilbab-yang-memohon-legalisasi-perkawinan-beda-agama). Let's forget about it, semoga yang membaca tidak terprovokasi memandang jelek agama yang sempurna ini.
Dari berita tersebut aku menemukan ketakutan mengapa dia mengajukan permohonan pelegalan perkawinan beda agama, seperti yang diungkapkannya kepada media:
Ketika saya ingin melangsungkan perkawinan, saya kan belum tahu sama siapa, jadi ada potensi.Potensi yang dimaksud mahasiswi tersebut adalah potensi menikah dengan pria yang berbeda agama dengannya. Sebenarnya potensi tersebut tidak akan terjadi jika kita tidak menciptakan potensi tersebut. Maksud dari kata menciptakan adalah kita sebagai perempuan yang menghadirkan potensi tersebut. Dan salah satu sebab mengapa potensi itu ada karena kita tidak mempelajari Islam secara kaafah, secara menyeluruh. Padahal segala aturan telah diatur oleh Al-Qur'an dan Sunnah, bahkan dicontohkan secara langsung melalui Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa sallam. Pegangan dan contoh yang jelas telah diberikan, terus apa yang kita takutkan? Segalanya telah diatur oleh Islam dengan sangat rapi, detail, dan sempurna.
Islam sangat memuliakan wanita, bahkan islam memberi point-point yang harus diperhatikan dalam memilih pria untuk dijadikan sebagai calon suami. Silahkan telusuri di mbah gugel, mas yahoo. atau akhi yufid bagaimana memilih pria untuk dinikahi. Banyak sumber yang menuliskan hal tersebut dilengkapi dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist-hadist Rasulullah. Semua dijelaskan dengan sangat gamblang. Mengapa? karena seorang suami kelak akan menjadi penentu bagi sang istri, kemana tempat peristirahatan terakhir sang Istri di akhirat, surga atau neraka. Hal ini jelas dikatakan Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa sallam "sesungguhnya suamimu adalah surga atau nerakamu" (HR. Ahmad).
Lalu, bagaimana jika seorang wanita berpikir menikah dengan beda agama? kemakah dia harus taat? Alhasil hanya ada dua kemungkinan yang terjadi perceraian atau salah satu dari pasangan mengikuti agama pasangannya. Dan banyak yang terjadi adalah istri mengikuti agama suami. Karena wanita adalah subjek penderita.
Apakah Indonesia akan berkiblat kepada barat, atas nama HAM melegalkan perkawinan beda agama? Jika iya, maka kita akan tunggu berita selanjutnya seperti pelegalan perkawinan sesama jenis dan pelegalan-pelegalan lainnya dengan mengatasnamakan HAM.
Apakah Indonesia akan berkiblat kepada barat, atas nama HAM melegalkan perkawinan beda agama? Jika iya, maka kita akan tunggu berita selanjutnya seperti pelegalan perkawinan sesama jenis dan pelegalan-pelegalan lainnya dengan mengatasnamakan HAM.
Labels:
Coretan hidup,
HAM,
Menikah,
My Notcha,
Sahabat
Sunday, August 31, 2014
Kemanakah Ujung Cintamu?
"Aku tidak ingin menikah" katanya tiba-tiba. Aku terdiam. Rasanya ingin sekali aku bertanya mengapa, tapi hati dan pikiranmu sepakat jika aku harus diam. Biarlah dia menyelesaikan perkerjaannya. Hingga hari ini aku masih berpikir tentang kata yang diucapkannya kemarin. Semoga saja itu hanya gurauan.
Menikah, sebenarnya aku tidak berani menulis tentang hal ini karena I am still single. Hanya saja pembahasan tentang menikah sudah harus ada pada umurku yang sekarang. Dan aku tidak bisa mengelak saat ditanya "kapan nikah?" karena itu adalah pertanyaan yang wajar. Meskipun aku terkadang sebel juga ditanya kapan menikah? Didalam hati aku hanya bisa mendumel It is not your business. Nanti kalo sudah menikah pertanyaannya lanjut "kapan punya anak? kapan ini.. kapan itu? And you know what, I wanna ask them too "Kapan mati?" Just kidding.
Yup... terkadang kita hanya bisa melontarkan pertanyaan tanpa memikirkan perasaan yang ditanya. Kita lupa pada konteks "menjaga perasaan". Aku mempunyai beberapa teman yang aku tahu mereka sangat ingin menikah hanya saja they haven't met their soulmate yet. Ketika mereka sudah menetapkan hati ingin menikah, ada saja cobaan hingga mereka batal untuk menikah. Ini disebabkan Mr. X mundur dengan alasan yang membuatku ingin menonjok mereka. Ingin berkhusnudzon tapi hati ini.. ah pria mudahnya kau menilai wanita hanya sebatas fisik mereka. Padahal Allah yang Maha Sempurna saja tidak pernah memperhatikan rupa sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian.~ HR. Muslim
Cinta, chemistry, getaran, apakah benar-benar berawal dari rupa. Mungkin sebagian mengatakan hal itu, tetapi sebenarnya itu semu. Aku tidak pernah percaya adanya Love at the first sight. Cinta itu tumbuh karena adanya interaksi. Dan interaksi itu bukan dengan PACARAN apalagi hingga perbuatan ZINA. Na'udzubillah min dzaliik. Back to the topic. Kemankah ujung cintamu? Aku pernah membaca sebuah undangan yang menuliskan "... kedua mempelai ini untuk menyatukan cinta mereka." Cinta..darimakah cinta itu berasal dan kemankah cinta berujung. Apakah seperti pepatah dari mata turun ke hati, atau... seperti kata-kata yang tertulis diundangan tersebut, cinta berujung ke pelaminan.
Kita mungkin tidak asing dengan kata SAMARA, sering banget kita mengucapkan kata tersebut saat ada teman yang menikah. Semoga kamu menjadi keluarga samara, Sakinah Mawaddah Warohmah.
Ada sebuah pernyataan dari seorang teman, guna penjajakan/pacaran adalah agar kita bisa lebih mengenal yang kelak bakal jadi suami kita.Dengan santai aku membalas perkataanya "menurutmu harus berapa lama kita melakukan penjajakan sampai kita memahaminya"
"Ya..sampai kita yakin" jawabnya.
"Kira-kira berapa lama?" tanyaku lagi.
"Tergantung, bisa cepat bisa lama, sampai kita yakinlah pokoknya"
"Kalo kita ngga yakin-yakin" timpalku.
"Ya..cari yang lain lagi lah"
Aku tersenyum "Kalo caranya seperti itu akan menyakitkan salah satu yang merasa dirugikan"
"Maksudnya?" tanyanya.
"Gini lho..si X melakukan penjajakan dengan si Y. Terus si X merasa tidak cocok dengan si Y, tetapi si Y merasa klop dengan si X. Jika si X memutuskan si Y, menurutmu gimana perasaan si Y?" asumsiku.
"Sakit hatilah"
"Nah..hal itu yang dihindari islam. Menyakiti hati saudaranya sesama muslim" kataku.
"Tapi bukannya kalo taaruf itu juga penjajakan toh"
"Bedalah.. walaupun sekarang kata taaruf itu sering disalah artikan sebagai pacaran islami. Temanku yang cantik, yang namanya pacaran itu tidak ada dalam islam."
"trus?" tanyanya penasaran.
"taaruf secara harfiah mengenal. Kalo kamu ngga kenal harus taaruf kan? tapi pada proses pernikahan taaruf itu hanya sebatas mengenal nama dan sedikit ciri-ciri apakah itu dari segi fisik atau non fisik, ada juga yang melampirkan foto. Apabila setelah itu kedua orang yang dikenalkan setuju, maka ada lanjutkan proses yang disebut dengan nadzor. Seperti dipertemukan but tidak hanya berdua layaknya pacaran. Yang nemanin boleh sodara, ustadz atau ustadzah, orang tua, pokoknya harus ada mahram, terutama bagi wanita."
"setelah itu?" tanya temanku semakin penasaran.
"Setelah itu, keputusan ada tangan keduanya. Lanjut pada tahap selanjutnya yaitu khitbah atau kata orang kita khitbah itu lamaran atau tunangan" jawabku.
"Jadi kalo salah satu ngga setuju, ngga ada proses lamaran?
"Yup"
"Kalo gitu kasihan dong dengan yang satunya, sakit hati juga kan?"
"Kecewa itu sunnatullah. Tapi kecewa itu pasti hilang. Percaya pada takdir Allah 'Azza wajalla. Allah pasti punya rencana dan siapa tahu dia yang kamu inginkan bukan berati yang kamu butuhkan. Sebagaimana firmanNya dalam QS. Al-Baqarah: 216, boleh jadi, kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
"terus yang harus dilakukan?"
"menjadi lebih taat, meningkatkan kualitas diri, hingga kelak dipertemuakn dengan jodah terpilih"
"tetap harus usaha mengenal juga kan?"
"Ya, tetap minta tolongin untuk ditaaruf lagi. Pokoknya pantang menyerah. Oh ya, lebih baik lagi jika yang mengenalkan adalah orang yang terpercay dan dapat jaga rahasia, agar kecewa dapat diminimalisir" jelasku.
"Fair, aku rasa cara ini memang tepat. Melihat situasi saat ini. Free sex, Married by Accident, suicide, bunuh diri gara-gara cinta ditolak, hingga dukun bertindak."
"Gara-gara. Cinta salah kaprah. ya ujung-ujungnya seperti yang udah kamu sebutkan" kataku mengakhiri diskusi.
Cinta itu abstrak, dan tidak ada definisi yang tepat apa itu cinta. Tapi sebelum engkau memastikan itu cinta yang harus kamu rasakan adalah SAKINAH. Sakinah itu yang terkadang tidak dirasakan oleh mereka yang memulai dengan pacaran, ini kata seorang Ustadzah saat aku mengikuti kajian kemuslimatan di kampus. Ada seorang akhwat bertanya mengapa ustadzah? Ustadzah menjawab sakinah itu artinya tenang, dan bagaimana mau tenang belum sah aja sudah merasa ngga tenang. Si dia ngga sms sehari udah dingambekin, bilang selingkuh, ini dan itu. Belum sah saja sudah selisih paham, apalagi jika sudah menikah, kata sang ustadzah. And I do agree with her. Karena banyak teman yang curhat tentang pacarnya selingkuh bahkan ada yang curhat suaminya selingkuh. Belum lagi pacaran buat ketagihan. Ini berasal dari narasumber yang pacaran ya... Menurut salah satu temannku mengapa setelah putus dia cepat dapat pacar baru, karena dulu waktu ada pacar malam minggu ada yang ngapelin, makan ada yang ngingatin, setiap bangun tidur dan kembali tidur lagi ada yang smsin, mau kemana aja ada yang nganterin. Saat udah putus dengan pacarnya, seperti ada yang kurang, dan cara untuk move on yaitu..cari pacar baru.
Setelah sakinah, maka barulah muncul mawaddah. Mawaddah itu cinta. Kapan mawaddah hadir? mawaddah hadir dari proses khitbah (lamaran) hingga Walimah (pernikahan). Bagi yang memulai dengan proses taaruf, mereka menyimpan rapat rasa cinta itu, mereka tidak ngin jatuh pada cinta tetapi mereka membangunnya. Dibiarkan cinta tumbuh dibalut dnegan ketaatan kepada Allah. Kesimpulannya, jika pacaran diawali dengan jatuh cinta, tapi kalo secara Islam, kita diajarakan untuk membangun cinta.
Cinta itu akan terus tumbuh hingga menghadirkan rohmah (kasih sayang). Rohmah inilah kelak yang membuat kehidupan keluarga menjadi langgeng. Memang pernikahan yang diawali dengan pacaran juga pasti ada rohmah, tapi kemanakah kasih sayang diawali pacaran itu berujung. Neraka atau Surga. Kedua orang yang saling bertemu karena Allah, mencintai karena Allah. kemudian mereka saling menyayangi karena Allah, hingga Allah melimpahkan Barokah dalam keluarganya dan finally they reunite in jannah. Mereka berkumpul di surga. Sudah jelas dimana ujungnya, bukan? Ini karena mereka selalu menesahati dalam kebenaran dan kesabaran untuk selalu taat kepada Allah.
Seperti kata Ustadz Salim A. Fillah, Abu lahab dan istrinya juga langgeng dunia dan akhirat. Dunia sama-sama memusihi nabi, dan di akhirat sama-sama kekal disiksa di neraka. So, kemanakah ujung cintamu?
"trus?" tanyanya penasaran.
"taaruf secara harfiah mengenal. Kalo kamu ngga kenal harus taaruf kan? tapi pada proses pernikahan taaruf itu hanya sebatas mengenal nama dan sedikit ciri-ciri apakah itu dari segi fisik atau non fisik, ada juga yang melampirkan foto. Apabila setelah itu kedua orang yang dikenalkan setuju, maka ada lanjutkan proses yang disebut dengan nadzor. Seperti dipertemukan but tidak hanya berdua layaknya pacaran. Yang nemanin boleh sodara, ustadz atau ustadzah, orang tua, pokoknya harus ada mahram, terutama bagi wanita."
"setelah itu?" tanya temanku semakin penasaran.
"Setelah itu, keputusan ada tangan keduanya. Lanjut pada tahap selanjutnya yaitu khitbah atau kata orang kita khitbah itu lamaran atau tunangan" jawabku.
"Jadi kalo salah satu ngga setuju, ngga ada proses lamaran?
"Yup"
"Kalo gitu kasihan dong dengan yang satunya, sakit hati juga kan?"
"Kecewa itu sunnatullah. Tapi kecewa itu pasti hilang. Percaya pada takdir Allah 'Azza wajalla. Allah pasti punya rencana dan siapa tahu dia yang kamu inginkan bukan berati yang kamu butuhkan. Sebagaimana firmanNya dalam QS. Al-Baqarah: 216, boleh jadi, kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
"terus yang harus dilakukan?"
"menjadi lebih taat, meningkatkan kualitas diri, hingga kelak dipertemuakn dengan jodah terpilih"
"tetap harus usaha mengenal juga kan?"
"Ya, tetap minta tolongin untuk ditaaruf lagi. Pokoknya pantang menyerah. Oh ya, lebih baik lagi jika yang mengenalkan adalah orang yang terpercay dan dapat jaga rahasia, agar kecewa dapat diminimalisir" jelasku.
"Fair, aku rasa cara ini memang tepat. Melihat situasi saat ini. Free sex, Married by Accident, suicide, bunuh diri gara-gara cinta ditolak, hingga dukun bertindak."
"Gara-gara. Cinta salah kaprah. ya ujung-ujungnya seperti yang udah kamu sebutkan" kataku mengakhiri diskusi.
Cinta itu abstrak, dan tidak ada definisi yang tepat apa itu cinta. Tapi sebelum engkau memastikan itu cinta yang harus kamu rasakan adalah SAKINAH. Sakinah itu yang terkadang tidak dirasakan oleh mereka yang memulai dengan pacaran, ini kata seorang Ustadzah saat aku mengikuti kajian kemuslimatan di kampus. Ada seorang akhwat bertanya mengapa ustadzah? Ustadzah menjawab sakinah itu artinya tenang, dan bagaimana mau tenang belum sah aja sudah merasa ngga tenang. Si dia ngga sms sehari udah dingambekin, bilang selingkuh, ini dan itu. Belum sah saja sudah selisih paham, apalagi jika sudah menikah, kata sang ustadzah. And I do agree with her. Karena banyak teman yang curhat tentang pacarnya selingkuh bahkan ada yang curhat suaminya selingkuh. Belum lagi pacaran buat ketagihan. Ini berasal dari narasumber yang pacaran ya... Menurut salah satu temannku mengapa setelah putus dia cepat dapat pacar baru, karena dulu waktu ada pacar malam minggu ada yang ngapelin, makan ada yang ngingatin, setiap bangun tidur dan kembali tidur lagi ada yang smsin, mau kemana aja ada yang nganterin. Saat udah putus dengan pacarnya, seperti ada yang kurang, dan cara untuk move on yaitu..cari pacar baru.
Setelah sakinah, maka barulah muncul mawaddah. Mawaddah itu cinta. Kapan mawaddah hadir? mawaddah hadir dari proses khitbah (lamaran) hingga Walimah (pernikahan). Bagi yang memulai dengan proses taaruf, mereka menyimpan rapat rasa cinta itu, mereka tidak ngin jatuh pada cinta tetapi mereka membangunnya. Dibiarkan cinta tumbuh dibalut dnegan ketaatan kepada Allah. Kesimpulannya, jika pacaran diawali dengan jatuh cinta, tapi kalo secara Islam, kita diajarakan untuk membangun cinta.
Cinta itu akan terus tumbuh hingga menghadirkan rohmah (kasih sayang). Rohmah inilah kelak yang membuat kehidupan keluarga menjadi langgeng. Memang pernikahan yang diawali dengan pacaran juga pasti ada rohmah, tapi kemanakah kasih sayang diawali pacaran itu berujung. Neraka atau Surga. Kedua orang yang saling bertemu karena Allah, mencintai karena Allah. kemudian mereka saling menyayangi karena Allah, hingga Allah melimpahkan Barokah dalam keluarganya dan finally they reunite in jannah. Mereka berkumpul di surga. Sudah jelas dimana ujungnya, bukan? Ini karena mereka selalu menesahati dalam kebenaran dan kesabaran untuk selalu taat kepada Allah.
Seperti kata Ustadz Salim A. Fillah, Abu lahab dan istrinya juga langgeng dunia dan akhirat. Dunia sama-sama memusihi nabi, dan di akhirat sama-sama kekal disiksa di neraka. So, kemanakah ujung cintamu?
Sunday, May 18, 2014
Mencintai Dalam Diam
Kisah cinta Ali dan Fatimah adalah kisah cinta yang mungkin tidak seromantis kisah cinta Romeo dan Juliet, tidak setragis kisah cinta Siti Nurbaya dan Samsul Bahri, ataupun cinta yang membuat gila seperti kisah Qais dan Laila. Tapi yang indah dari kisah Ali dan Fatimah adalah mencintai dalam diam, mencintai dalam ketaatan. Jika membaca shirah sahabat, bukan hanya Ali yang ingin meminang Fatimah. Sahabat yang paling dihormati dan ditakuti Umar bin Khatab pernah melamar putri bungsu Rasulullah SAW ini. Begitu juga Sahabat yang paling dermawan, Ustman bin Affan. Kedua orang yang dijanjikan sebagai penghuni surga ini ditolak. Mendengar keduanya ditolak, Ali bin Abi Thalib merasa tak percaya diri. Ali tak sekuat Umar dan Ali tak sekaya Ustman. Jadilah, Ali hanya berani mencintai dalam diam. Suatu hari, dalam lingkaran iman bersama para sahabat, ada yang menggoda. Mereka terus mendorong Ali untuk datang menemui Sang Nabi dan meminang putri kesayangan Beliau. Siapa yang menyangka, pinangan Ali diterima.
Diatas hanya sepenggal kisah Ali dan Fatimah. Kisah cinta luar biasa yang patut diteladani. Kisah cinta yang membangun iman, bukan kisah cinta yang membangun angan-angan. Beranikah kita mencintai dalam diam? Membangun cinta dalam keimanan? Menjaga diri hingga halal untuk seseorang yang datang meminang tanpa melalui proses pacaran.
Hidup kita tak akan pernah seperti drama yang ditanyangkan di televisi. Jadi jangan pernah bahagia, saat datang kepadamu seorang laki-laki yang mengajakmu pacaran dan hanya memberi angan-angan. Seorang laki-laki yang membuatmu terpesona dengan kata-kata pujiannya. Pernahkah kamu berpikir, jika dia berani memujimu pastilah dia pernah memuji wanita lain juga. Jika dia mengatakan sayang padamu, pastilah bukan engkau seorang yang mendapat ungkapan sayang. Begitu juga laki-laki, bangga kalau mendapat wanita yang diinginkan hanya karena mempunyai wajah cantik dan bodi aduhai. Memilih untung memandang yang haram daripada menjadikannya halal. Pernah kau berpikir? Salah satu penyebab perceraian terjadi adalah tidak kokohnya benteng rumah tangga karena mantan-mantan pacarmu yang tiba-tiba bertemu atau muncul dalam pembicaraan. Sebuah percakapan dengan teman tentang cewok mana yang dipilih sicewek.
"Kisah drama yang menyedihkan" kataku saat menonton. "Kok?" kata temanku bingung. "Wanita miskin kok direbutkan sama dua laki-laki kaya, ngga masuk akal lah. Udah itu sampe segitunya lagi...berusaha merebut hati si cewek agar mau jadi pacarnya?". "Kalo menurutmu sicewek akhirnya dengan siapa?" tanya temanku. "mending sicewek jadi cewek JOSH" jawabkku. "JOSH?" tanya temanku.
Khusus jombloer, mengapa kalian membimbangkan jodoh yang tak kunjung datang hingga memutuskan untuk mencari dengan cara yang salah. Apakah kalian tidak percaya dengan takdir Allah? tidak percaya bahwa Allah telah mempersiapkan pasangan yang tepat untukMu. Seperti kata-kataNya dalam Q.S Ar-Rum yang selalu dikutip dalam undangan pernikahan. Dia telah menciptakan pasangan dari jenismu supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya rasa kasih dan sayang. Jika kita merenungi ayat ini maka kita tidak akan berani mencoba-coba dengan membangun komunikasi yang memungkinkan setan menyisipi kata-kata yang membuat zina hati hingga zina-zina lainnya.
Mengapa kau tidak memilih JOSH alias JOmblo Sampai Halal. Mencintai dalam diam tapi pasti daripada mencintai dengan terang-terangan namun penuh angan-angan. Percayalah, jodohmu tak akan tertukar. Tulang rusukmu pasti telah dipersiapkan. Hanya saja menantilah dalam diam, dalam ketaatan. Ikhtiar dilakukan dengan cara yang baik. Jangan pernah memberi harapan yang belum bisa kau lakukan. Karena dia yang kau cintai secara terang-terangan belum tentu kelak akan menjadi pasanganmu yang halal. Kau tidak pernah tahu apa yang Allah siapkan untukmu. Jodohmu mungkin tetanggamu, jodohmu mungkin sahabat baikmu, jodohmu mungkin seseorang yang baru kau temui, jodohmu mungkin teman kantormu, dan jodohmu mungkin masih menunggumu, mencintaimu dalam diam. Persiapkan diri hingga si dia yang ditakdirkan akan menjadi teman sejati yang halal bagimu.
Labels:
Cinta,
Coretan hidup,
Motivasi,
My Notcha,
Sahabat
Saturday, May 17, 2014
Antara IPK dan Aktif di Organisasi
Saat belajar bersama di kost, seorang adik yang juga salah
satu penghuni kost bertanya tentang apa yang lebih penting IPK atau aktif di
organisasi di kampus. Suatu hal yang membingungkan dan hal ini biasanya
dirasakan oleh semua mahasiswa baru. Ada kegalauan antara harus belajar dengan
giat agar IPK bagus atau aktif di organisasi. Bagi mereka dunia kampus adalah
berbeda. Saatnya mereka melepas seragam putih abu-abu dan mulai mencari jati
diri.
Belajar pada
tingkat universitas khususnya tingkat S1, kita akan dihadapi dengan kuliah dan
organisasi. Ketika dibangku SMA, nilai selalu jadi prioritas utama dan
organisasi hanya menjadi kegiatan tambahan bagi siswa. Hal ini berbeda dengan
aktifitas di universitas dimana sering terjadi ketimpangan antara kuliah dan
organisasi. Akibatnya banyak organisator yang drop out dan banyak juga mahasiswa yang kelak canggung turun
kemasyarakat karena kurang berpengalaman dalam bersosialisasi.
Memasuki
dunia kampus, mahasiswa baru akan diperkenalkan dengan berbagai macam
organisasi baik dari internal kampus maupun dari eksternal kampus. Mulai dari
organisasi yang bergerak di politik, akademik, keagamaan, ekonomi, sosial, seni,
budaya, penyiaran, tulis-menulis, pencinta alam dan lingkungan. Mahasiswa bebas
memilih organisasi yang mereka minati. Dan mereka juga berhak memilih untuk
tidak bergabung dengan organsasi apapun.
Tawaran
untuk bergabung dalam organisasi saat memasuki ranah kampus akan terus mengalir.
Bukan hanya ketika kita baru menjadi mahasiswa, tetapi ketika sudah menjadi
senior tawaran itu tetap ada. Tidak semua organisasi itu buruk karena yang
buruk adalah bagaimana manajemen diri kita. Dan tidak semua mahasiswa yang
bergabung dalam organisasi akan memperoleh IPK nasakom (nilai satu koma) atau
menjadi anggota MPK (Mahasiswa penghuni kampus). Banyak juga mahasiswa
berprestasi namun tetap gigih organisasi. Kembali pada manajemen diri dan
motivasi diri. Dua hal ini adalah kunci
sukses dalam penempaan diri baik.
Kampus
sering dianalogikan sebagai miniatur kecil dari negara. Oleh karena itu
bergabung di organisasi dianjurkan untuk mahasiswa. Organisasi tidak saja
menampung minat, melaksanakan event atau kegiatan tetapi organisasi juga secara
tidak langsung mengajarkan mahasiswa berpolitik. Di organisasi, mahasiswa juga
belajar bersosialisai dengan mahasiswa lainnya baik pada tingkat program studi,
fakultas maupun universitas. Organsasi juga dapat menjadi modal ketika terjun
di masyarakat, terutama organisasi eksternal kampus yang biasanya melakukan
kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Banyak yang dipelajari di
organisasi tetapi tidak kita dapat di ruangan kelas saat proses perkuliahan
terjadi.
Sayangnya ketika
bergabung dalam organisasi, mahasiswa sering menomorduakan kuliah. Meskipun
pada awal masuk tujuan utama adalah kuliah, namun organisasi terkadang dapat
berubah menjadi prioritas saat telah bergelut didalamnya. Banyak yang lebih
suka berkumpul untuk rapat dari pada masuk kelas mengikuti kuliah. Ketimpangan
ini membagi dua jenis mahasiswa. Jenis yang pertama adalah mahasiswa kupu-kupu.
Kupu-kupu berarti kuliah-pulang dan kuliah pulang. Sebuah analogi untuk
mahasiswa yang fokus kuliah. Jenis yang kedua yaitu mahasiswa kura-kura.
Kura-kura berarti kuliah-rapat, kuliah-rapat. Jenis yang ini menganalogikan
mahasiswa yang sibuk antara kuliah dan organisasi. Jenis kura-kura inilah yang
terkadang memprioritaskan organisasi dan terkadang lebih mengutamakan rapat
daripada kuliah.
Kembali ke pertanyaan
awal apakah yang lebih penting IPK atau organisasi. Seberapakah penting IPK?
Dan seberapa penting organisasi? Dua pertanyaan ini seharusnya menjadi
pertanyaan dasar yang harus diajukan pada diri kita. Hal ini diharapkan agar
tidak terjadi ketimpangan tetapi keseimbangan antara kedua hal ini. IPK bagus,
lulus tepat waktu dan organisasi OK.
Motivasi
dalam melakukan sesuatu dapat menjadi alarm yang mengingatkan ketika
ketimpangan itu terjadi. Apa motivasi awal kita kuliah? Apa motivasi kita
mengikuti organisasi? Kedua motivasi antara kuliah dan organisasi haruslah
jelas. Contohnya kuliah, ada yang awalnya mempunyai motivasi kuliah untuk
mendapatkan pekerjaan lebih baik sehingga kita belajar keras agar dapat masuk
di program studi yang kita minati dan terus belajar agar IPK tinggi dan lulus
tepat waktu. Sedangkan contoh dari motivasi mengikuti organisasi yaitu ingin
menjalin relasi yang lebih luas dan menambah pengalaman. Selain motivasi yang
berasal dari diri sendiri, ada motivasi yang datang dari lingkungan kita yang
disebut dengan motivasi ekstrinsik. Motivasi ini biasanya berasal dari keluarga
yaitu orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil. Dan
terkadang keberhasilan itu diukur dengan lulus tepat waktu dan IPK yang baik.
Kesimpulannya,
tidak ada pilihan yang tidak beresiko. Motivasi dan manajemen diri menjadi
solusi dari resiko tersebut. Manajemen diri yang baik dan motivasi yang kuat akan menjadikan kita mahasiswa hebat.
Sedangkan keraguan-raguan antara IPK dan organisasi dapat menjadi penghambat
kesuksesan. Lagipula untuk memperoleh beasiswa atau suatu pekerjaan, bukan
hanya IPK yang menjadi syarat tetapi juga pengalaman berorganisasi. Organisasi
melatih kita menjadi pemimpin sedangkan prestasi di proses perkuliahan akan
memperluas keilmuan. Mengutip status FB-nya motivator muda Setia Furqon Kholid:Kuliah, jangan sekedar kuliahKuliah harus punya gairahNggak sekedar lelahAtau menggugurkan tanggung jawab dan rasa bersalahHarus ada tujuan disanaHarus ada manfaat disanaHarus ada karya disanaKarena kita dikenal, bukan dari seberapa panjang gelar yang dipasangTapi seberapa mampu mempertanggungjawabkan ilmu yang berkaitan dengan gelar yang disandangIjazah sarjana bukan artinya jalan tol untuk mudah bekerjaTapi sejatinya nya amanah untuk jadi orang yang bergunaToga dikenakan bukan puncak kesuksesanKarena hakikat sukses sejati saat kita diwisuda di akhirat sanaTak seperti nilai di dunia yang masih bisa diubahNamun sejatinya, di akhirat parameter kesuksesan diukurdari seberapa benar dan baik kita menjalani hidup di duniaSemoga kita bisa menjadi mahasiswa yang sukses,bukan hanya di dunia, tapi juga selamat di akhirat.Aamiin
Malas???
Bingung mau nulis apa. Tapi pengen nulis. Ini akibat telah lama ngga nulis. 2 tahun ngga berkarya, ngga buat tulisan, ternyata melemahkan syaraf otak untuk menulis. What a worse!!! Habit, habit and habit. Kata ustadz. Felix jika ingin membentuk habit yang baik harus dengan repetisi alias pengulangan. Tapi... yang nama ngulang itu ada penyakit yang selalu mengikuti, penyaki M-A-L-A-S. Penyakit ini yang sering menghinggapi dan susah sekali untuk diusir. Hus..hus..malas pergilah.. (seandai malas itu kucing). :)
Padahal, Allah SWT selalu mengingatkan didalam QS. Al-Hasyr (59) ayat 18, yang isinya:
Hus Malas...Pergilah jauh-jauh dariku dan dari sahabat-sahabatku yang baca tulisan ini. Oh ya..selain motivasi Akhirat, sang Nabi juga telah mengajari kita Do'a pengusir malas. Bagi yang rajin membaca Al-Matsurat pagi dan petang pasti penyakit malas ngga menjadi penyakit akut. Doanya mudah kok..
Padahal, Allah SWT selalu mengingatkan didalam QS. Al-Hasyr (59) ayat 18, yang isinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.Pertama kali terenyuh dengan ayat ini saat pertemuan membahas dakwah sospol di kampus, tepatnya di fakultas hukum. Seorang senior membacakan ayat ini sebagai pembuka presentasinya. Yup... hendaklah kita memperhatikan apa yang kita perbuat untuk hari esok. Meskipun redaksi terjemahan surat tersebut yang dimaksud hari esok adalah akhirat, tapi menurutku tergantung NIAT. Apapun yang kita niatkan untuk Allah, maka akan berinvestasi untuk akhirat.
Hus Malas...Pergilah jauh-jauh dariku dan dari sahabat-sahabatku yang baca tulisan ini. Oh ya..selain motivasi Akhirat, sang Nabi juga telah mengajari kita Do'a pengusir malas. Bagi yang rajin membaca Al-Matsurat pagi dan petang pasti penyakit malas ngga menjadi penyakit akut. Doanya mudah kok..
Allohumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal bukhlii, wa a'udzubika min ghalabatid dayni wa qohrir rijaal.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang.(HR. Bukhari)So..so..masih Malas. Jangan jadikan rasa malas sebagai penyakit akut... And for me!!! Ganbate!!! Thesis must be done asap!!!
Labels:
Coretan hidup,
Motivasi,
Muhasabah,
My Notcha,
Sahabat
Tuesday, October 9, 2012
Album Biru
Kisah-kisah usang penuh kenangan
Tersusun rapi dalam selipan-selipan di album biru
Menunggu diingat saat senja
Sebagai simbol kebahagiaan yang pernah ada
(Solo, 9 Oktober 2012)
Labels:
Cinta,
Coretan hidup,
My Notcha,
Puisi
Thursday, August 23, 2012
SAAT GURU MENJADI IDOLA
Saat
ini guru menjadi topik yang paling seru untuk dibicarakan. Guru menjadi tema
utama dalam rubrik di media massa. Ditambah lagi seminar-seminar pendidikan
yang mengangkat tema tentang guru. Mulai dari profesionalitas, cara mengajar,
bahkan universitas yang menyediakan fakultas keguruan menjadi serbuan. Selain
itu, berita tentang demo yang dilakukan oleh guru juga menjadi berita hangat. Tak
pelak, saat ini guru menjadi idola.
Apakah
karena gaji besar yang dijanjikan? Atau pekerjaan yang memuliakan? Profesi guru
menjadi salah satu yang diinginkan dan dicita-citakan oleh anak-anak muda saat
ini. Bahkan, banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi guru. Hal ini
terbukti, dari minat yang tinggi terhadap fakultas keguruan.
Namun
sayang, saat guru menjadi idola ada sesuatu yang hilang. Prioritas menjadi guru
hanyalah sebagai pekerjaan yang mudah didapat dan dapat memberi gaji menjanjikan apalagi jika guru
tersebut lulus sertifikasi profesi guru. Sebagaimana yang diungkapan oleh Anis
Baswedan, pencetus Gerakan Indonesia Mengajar dalam dialog bersama Desi Anwar
di salah satu televisi swasta (7/7/2012) “A
teacher must be role model. We don’t
fight to get a job but we do fight to do this job”. Keteladanan adalah hal yang mulai terkikis
ketika guru bekerja hanya untuk uang. Pendapatan menjadikan profesi guru
hanyalah sebatas pekerjaan untuk menyampaikan materi dari buku, memberi tugas
dan nilai. Esensi utama seorang guru yaitu mendidik dengan keteladanan dinomor
duakan.
Pendidikan
berbasis karakter, sebuah kebijakan
Kementrian Pendidikan Nasional pada tahun 2011 diharapkan dapat menjadi tonggak
dalam membangun karakter anak bangsa dan terwujudnya Indonesia Emas 2025.
Pendidikan karakter ini dijabarkan dalam enam pilar karakter yang terdiri dari trustworthiness (kepercayaan), Respect (Respek), Responsibility (Tanggungjawab), Fairness
(Keadilan), Caring (Peduli), Citizenship (Kewarganegaraan). Keenam
pilar yang akan lebih mudah dibangun jika telah berdiri tegak dalam diri sang
guru.
Saat
guru menjadi idola maka guru adalah panutan. Guru akan digugu dan ditiru. Guru
bukan hanya simbol pendidikan yang mentransfer ilmu dalam kelas. Lebih dari
itu, guru harus mengalahkan ketenaran idola yang diidolakan para muridnya. Tapi
sayangnya di Indonesia, guru tidak menjadi idola. Mirisnya, ada sebuah julukan
bagi guru yaitu the killer. Guru
adalah monster yang menakutkan. Peran idola lebih kini disandang oleh boys dan
girls band, artis, aktor dan smeua yang tampil dalam kotak persegi empat yang
disebut televisi. Thomas L.
Friedman menuliskan sebuah perbandingan antara anak-anak Cina dengan Amerika
dalam tulisannya The World is Flat
(2006) “saat ini di Cina, Bill Gates adalah Britney Spears. Di Amerika, Britneys
Spears adalah Britney Spears, dan itulah masalah kita”. Kepedulian Friedman
terhadap generasi di Amerika, seharusnya menyadarkan kita bagaimana keadaan
anak-anak di Indonesia. Kecintaan anak-anak pada hiburan saat ini tampak lebih
besar daripada kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, mutu
pendidikan di Indonesia tidak akan meningkat secara signifikan. Berbeda halnya
dengan Cina yang saat ini meroket menyaingi Amerika.
Contoh nyata dari keteladanan tampak dari
guru terhebat Muhammad Saw. Sebagaimana yang tercantum dalam terjemahan Q.S Al-Ahzab: 21 yang berbunyi “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik…”. Rasulullah, sosok guru yang pengaruhnya dapat dirasakan
hingga saat ini. Keteladanannya tidak hanya dicontoh oleh pengikut pada masanya
tetapi juga diikut oleh orang-orang yang menjadikannya idola hingga saat ini. Hal
ini membuktikan teladan dari guru adalah pilar paling utama sebelum enam pilar
karakter tersebut. Pengaruh teladan yang tampak dari seorang guru dapat lebih
mudah diterima daripada karakter yang hanya diajar lewat teori dari buku.
Mengidolakan diri bagi guru bukanlah
hal mudah disaat idola-idola dunia hiburan menjadi sebuah euphoria bagi anak-anak
Indonesia. Anak-anak Indonesia lebih senang mendengarkan lagu-lagu popular
seperti lagu Pop, K-Pop, Rock yang dinyanyikan idola mereka dari pada
penjelasan guru mereka. Bahkan mereka tak segan berdandan ala sang idola.
Cita-cita ingin jadi boysband atau girlsband, artis, aktor telah terframe kuat dalam
pikiran mereka.
Tetapi bukanlah tidak mungkin bagi
guru untuk menjadi idola. Hanya diperlukan kerja keras, kreatifitas dan
semangat untuk menjadi idola. Guru harus mengembalikan fitrah asli sebagai guru
yaitu menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Berjuang dengan sungguh-sungguh dalam
mendidik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa tekanan dan
menjadi idola yang pantas untuk ditiru oleh anak-anak didiknya.
My
teacher is my idol. Guruku idolaku. Saatnya guru menjadi idola. Idola yang selalu
ditunggu kedatangannya untuk mengajar. Idola yang di gugu dan ditiru. Idola
yang membawa Indonesia menjadi negara terdepan yang siap menyaingi negara maju
di dunia. Saat guru menjadi idola maka bukan tidak mungkin Indonesia emas 2025
akan terwujud.
Friday, March 30, 2012
LIFE
If you know life is so beautiful
I’m sure you can’t stop enjoying it
If you know life is so colourful
I’m sure you can paint the beautiful rainbow on it
But if you know it is temporary
And life is not always that you expect
You can’t stop complaining how is it like
Sometimes life is black and white
Sometimes life is grey
Won’t you run from it?
The path we through in is not always straight
The way we have is not always flat
Life is like a wave on the ocean
Sometimes big and high
Sometime small and quite
But behind this, there is a beautiful view
That’s a life we never know how’s life is
We only live and do the best we can
For create a better life we have
Ketika Penat Menyapa
Ladang yang kita garap tak selamanya baik
Tanaman dapat tumbuh subur dan berbuah indah
Terkadang kita harus turun diladang tandus
Membuka lahan dengan banyak hama menyerang
Penatpun dating membuat semangat kadang pudar
Beban semakin meninggi dan hasil yang diharap
Tak kunjung hadir, meski usaha tak berhenti
Penatpun semakin menyapa dan kadang memaksa
Berhentilah jika kau tak mampu bertahan
Berpikirlah sejenak dan cari udara segar
Penat tak bisa dipaksa dengan semangat membara
Karena bukan buah yang manis dan ranum kau dapatkan
Tetapi buah kekecewaan yang mengarahkan kehancuran
Ketika penat menyapa jangan kau balas dengan keluhan
Balaslah dengan senyuman dan kebijakan
Katakan pada penat “Aku berhenti tapi aku akan kembali”
Pastikan pada penat bahwa ini hanya sejenak
Mungkin saat ini aku gagal dan ladang ini masih gersang
Tapi nanti saat aku kembali
Akan kubawa bibit dan alat terbaik
Untuk menggarap ladang ini kembali
Wednesday, March 14, 2012
Diantara Kita
Diantara kita ada jarak bermil-mil tak terjangkau
Dibatasi oleh benteng-benteng menjulang menggapai langit
Tak terhitung detingan detik disela waktu manusia
Hanya tembikar coklat tebakar, bukti kita pernah bersama
Danau terluas maupun Niagara adalah saksi
Diantara kita sudah putih tak ada garis-garis layaknya kertas tulis
Aku disini dan engkau disana
Diantara kita sudah tak ada rasa
Hanya ada kekosongan yang hampa penuh dengan rekayasa
Senyum kita palsu
Sedih kita juga palsu
Apalah yang ada diantara kita
Diantara kita hanya ada meteran langkah
Penuh manusia yang berwajah seribu
Dibatasi oleh benteng-benteng menjulang menggapai langit
Tak terhitung detingan detik disela waktu manusia
Hanya tembikar coklat tebakar, bukti kita pernah bersama
Danau terluas maupun Niagara adalah saksi
Diantara kita sudah putih tak ada garis-garis layaknya kertas tulis
Aku disini dan engkau disana
Diantara kita sudah tak ada rasa
Hanya ada kekosongan yang hampa penuh dengan rekayasa
Senyum kita palsu
Sedih kita juga palsu
Apalah yang ada diantara kita
Diantara kita hanya ada meteran langkah
Penuh manusia yang berwajah seribu
Labels:
Coretan hidup,
My Notcha
Sunday, March 11, 2012
Jalan Masih Buram
Jalan itu panjang bukan selangkah sampai
Perlu banyak waktu agar sampai tujuan
Kadang kala penuh dengah halang merintang
Membuat hati ciut ingin menyerah
Berhenti sejenak untuk istirahat bukah salah
Namun jangan pernah berhenti melangkah
Jalan ini masih panjang dan kita belum sampai
Masih banyak likuan, masih banyak rintangan
Ujung belum terpandang, masih buram
Seperti apa akhir tak ada yang tahu
Tak ada yang bisa menebak
Yang ada hanya tetap berjalan
Jalan masih buram kawan
Hanya warna abu-abu yang tampak
Masih ada banyak harapan
Masih dapat melakukan perubahan
Teruslah berjalan, jangan berhenti dipersimpangan
Perlu banyak waktu agar sampai tujuan
Kadang kala penuh dengah halang merintang
Membuat hati ciut ingin menyerah
Berhenti sejenak untuk istirahat bukah salah
Namun jangan pernah berhenti melangkah
Jalan ini masih panjang dan kita belum sampai
Masih banyak likuan, masih banyak rintangan
Ujung belum terpandang, masih buram
Seperti apa akhir tak ada yang tahu
Tak ada yang bisa menebak
Yang ada hanya tetap berjalan
Jalan masih buram kawan
Hanya warna abu-abu yang tampak
Masih ada banyak harapan
Masih dapat melakukan perubahan
Teruslah berjalan, jangan berhenti dipersimpangan
Tuesday, March 6, 2012
Siapa yang salah?
Kenakalan remaja bukanlah masalah baru yang timbul saat ini. Ini adalah permasalahan lama yang tak kunjung ada solusi namun semakin menjadi. Di berita televisi sering tersiar razia anak-anak sekolah yang bolos terjaring oleh polisi pamong praja. Kebanyakan dari mereka ditemukan di warnet dan kafe-kafe lengkap dengan seragam sekolah. Selain itu, tingkah buruk pelajar juga semakin memprihatinkan. Hal ini tampak di jalan-jalan ketika mereka pergi dan pulang sekolah. Hembusan rokok sepanjang jalan, kebut-kebutan dan makian yang akrab terdengar dari mereka. Belum lagi yang membolos hanya untuk ngelem. Ngelem adalah kegiatan yang lagi tren diantara kalangan remaja labil dimana mereka memasukan lem dalam kantong kresek dan menghirupnya. Hal ini membuat kecanduan, ngga beda jauh dari penggunaan NARKOBA. Hanya beda harga, lebih murah. Miris, karena hal ini tidaklah lagi tersembunyi.
Disekolah, belajar bukanlah lagi prioritas. Hanyalah tempat pelarian dari kebosanan di rumah dan upaya mendapat uang jajan. Jika malas, maka boloslah. Inilah yang diungkapkan salah satu murid ketika ditanya alasan mengapa dia membolos. Malas ke sekolah?, aneh tetapi bukan ini yang patut kita pertanyakan. Siapa yang salah hingga anak malas ke sekolah? murid? guru? atau orang tua?. Siapa yang salah jika anak bermasalah?
Sering kali orang tua menyalahkan guru dan sebaliknya guru menyalahkan orang tua. Kisah saling menyalahkan yang takkan pernah berakhir melupakan solusi penyelesaian. Saling tuduh dan saling menyerahkan. Sedangkan sang anak semakin terjerembab dalam lingkaran hitam penuh masalah. Orang tua menyalahkan guru yang tidak baik mengajar dan sebaliknya guru menyalahkan orang tua yang kurang memberi perhatian kepada si anak.
Tidak ada yang 100 persen benar dan tidak ada 100 persen salah dalam konteks ini. Yang diperlukan hanyalah kesinergisan hubungan antara guru dan orang tua murid. Kerja sama dalam mendidik dan membentuk pribadi anak menjadi lebih positif. Menciptakan hubungan baik antara guru dan orang tua murid dapat berimbas pada proses perkembangan anak. Bukan saatnya mencari siapa yang salah tetap saatnya mencari solusi dari masalah.
Guru di sekolah hanya mendidik 1/4 dari waktu yang tersedia, sisanya 3/4 adalah jatah orang tua. Dalam waktu 1/4 itu guru harus lebih kreatif dan bijaksana dalam mendidik. Mendidik dengan hati agar siswa-siswa betah dan merasa nyaman dalam belajar. Guru harus membuang aroganisme, menjadi sok garang dan sikap tak peduli. Karena pendidikan kreatif disertai sikap bijaksana lebih membuat siswa semangat dalam belajar dan lebih dalam menghormati guru. Ketika guru mendidik dengan kekerasan maka yang ada bukanlah hormat tapi pemberontakan yang dilakukan oleh siswa. Seperti tak betah belajar di kelas, mencari masalah dan bolos sekolah.
Sepulang sekolah, tugas orang tua untuk mengontrol anaknya. Orang tua harus lebih hiperaktif, menanyakan apa yang dipelajari, bagaimana dengan sekolah anaknya hari ini, apakah ada PR dan masih banyak lagi yang membuat anak merasa di perhatikan. Selain itu, orang tua juga harus lebih memperhatikan aktifitas anaknya. Seperti apa temannya bergaul, apa hobbinya atau apa tontonannya. Karena hal-hal seperti teman dan teknologi mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan sikap anak.
Bukan saatnya saling menyalahkan atau saling menyerahkan tugas. Perkembangan anak adalah tanggung jawab bersama antara guru dan orang tua murid. Untuk orang tua, biasakan cek atau menanyakan tentang guru bagaimana anaknya di sekolah. dan begitu juga guru, jika terjadi hal yang ganjil tampak dari sang anak, segera koordinasikan dengan orang tua. Karena mereka adalah masa depan bangsa.
Labels:
Coretan hidup,
My Notcha,
Sekolah
Monday, March 5, 2012
Hilang Arah
Membaur bukan melebur
Tiga kata yang bermakna bahwa kita boleh bergabung dengan siapa saja tanpa peduli pekerjaannya, jabatan, elok rupa, penghasilan dan siapa keluarganya. Tetapi kata terakhir seakan memberi penegasan meskipun bergabung jangan pernah melebur. Membiarkan diri terkontaminasi oleh pergaulan.
Namun sayang, bagi kebanyakan ini hanya teori. Hanya sedikit yang bisa bertahan dalam pergaulan dengan menerapkan istilah membaur bukan melebur. Sisanya? Memilih untuk membuat grup sendiri, menunjukkan ke eksklusif dan enggan bergabung dengan golongan yang tak seperti.
Selain itu, ada yang sengaja menginklusifkan diri. Yakin bertahan namun tak mampu mempraktekan teori. Tipe seperti inilah yang sering mentoleransi diri sehingga hilang jati diri.
Degradasi moral tampak disini. Sedikit demi sedikit perubahanpun terjadi. Kekecewaan semakin menjadi-jadi dan akhirnya memutuskan untuk lari. Orientasi sudah tak seperti dulu lagi. Telah berpindah haluan ingin dicintai dan ingin menyerupai. Lupa akan tujuan utama Ilahi.
Labels:
Coretan hidup,
Muhasabah,
My Notcha
Sunday, March 4, 2012
Don’t Judge The God
Sebuah sindiran yang disampaikan oleh Mario Teguh di Golden Way, teguran yang cukup membuat hati ini tersentak “Jangan pernah menyalahkan Tuhan.”
Hidup adalah sebuah lika-liku. Adakalanya kita berada dipuncak dan bahagia, dan adakalanya pula kita terpeleset jatuh. Terkadang perubahan drastic yang terjadi pada kita ketika kita jatuh. We judge the God. Kita menyalahkan Tuhan atas kejadian yang kita alami adalah kehendak Tuhan. Sehingga kita makin terjerembab kedalam jurang kegelapan tanpa mau mendaki keluar.
Sadarkah kita? Ketika kita senang, we forgot the God. Kita sibuk dengan kebahagian-kebahagian yang kita alami, sibuk dengan harta, keluarga dan puja. Kita lupa kepada pemberi kebahagiaan, asal-muasal kebahagian adalah darinya Allah Swt.
Ingatkah kita dengan sebuah cerita keluarga pengembala kambing yang miskin pada jaman Rasulullah. Suami dan Istri yang harus bergantian menggunakan sarung untuk solat. Hingga suatu saat Rasulullah heran melihat lelaki miskin itu selalu pergi sebelum solat berjama’ah selesai dan bertanya kepada lelaki tersebut.
“Hai pulan, mengapa dirimu tidak pernah menyelesaikan solat berjamaah dan langsung pulang setelah salam?” Tanya Raulullah.
“Maaf ya Rasulullah, sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama di rumah Allah ini. Namun apalah daya, keluarga kami hanya memiliki 1 buah sarung dan istriku juga harus solat menggunakan sarung tersebut.”
“Begitukah ceritanya.”
“Ya. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu Rasulullah.”
“Apa itu?”
“Doakanlah agar kambing-kambing kami dapat berkembang biak dan aku dapat solat berjamaah seperti layaknya sahabat-sahabat yang lain.”
Rasulullah kemudian mendoakan si lelaki agar diberi keberkahan dalam pekerjaannya sebagai pengembala. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Kambing si gembala berkembang biak dengan pesat. Sehingga dia kewalahan mengurusi kambingnya dan mulai menghilang dari shaf solat.
Tibalah saatnya dimana sigembala wajib membayar zakat atas hartanya. Namun, sangat terkejut Rasulullah ketika mendengar lelaki tersebut menolak dan mengatakan kalau semua itu adalah hasil jerih payahnya.
Kembali ke topic awal, begitulah kiranya kita. Kita yang selalu mengeluh dan mengatakan “Mungkin Allah berkehendak beda” adalah alasan untuk menyalahkan Allah atas apa yang di alami. Terus harus bagaimana? Patuhi ketentuan Allah dan syukuri. Syukuri setiap kebahagian yang kita dapatkan dan STOP COMPLAINING.
Seberapa bermafaatkah aku?
*sebuah muhasabah diri
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Anak kecil selalu dapat menjadi inspirasi dan cermin bagi kita yang lebih tua. That’s why Aku suka banget sama anak kecil and I do love my nephews duo F uno R, Fatir and Faza panglima serdam dan Ridho panglima Pemda. Walau setiap hari harus buang suara melihat tingkahnya (baru-baru ini melukis spongebob dikamar, membuat error bb, menghabiskan sisa kertas hvs dan lembar data siswa untuk membuat topeng). Tapi sepi juga ngga ada mereka di rumah.
Sebuah pertanyaan yang diajukan Ridho kepada Mamanya membuatku berpikir, “Ido ni berguna nda mak?”
A Simple question but difficult to answer. Kakakku hanya bisa tersenyum dan menjawab “Kalo Ido nda berguna, mengapa mamak melahirkan ido?”
Tercengang mendengar pertanyaan keponakan yang satu ini, yang juga membuatku bertanya sudah bergunakah diri ini? Seberapa besar manfaat yang sudah kita berikan kepada keluarga kita orang-orang terdekat disekitar kita dan saudara kita sesama muslim. Kita pasti sudah hafal sebuah hadist yang mengatakan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Mungkin, kita pernah merasa menjadi orang yang tak berguna, tidak diperlukan dan tidak penting. Yah..perasaan dimana kita tidak bisa melakukan apa-apa ketika tahu ada saudara kita yang memerlukan bantuan. Seandainya saja…,jika dulu…, atau mengapa…? Adalah kalimat yang sering kita ucapkan pada kondisi merasa diri tidak berguna atau tidak penting. Kita terus saja mengeluh dan berandai-andai mengapa kita tidak bisa membantu saat kita benar-benar dibutuhkan.
Sebenarnya mengeluh saat kita kecewa ketika tidak bisa membantu orang lain adalah lumrah. Mengapa? Karena disitulah momentum untuk kita melakukan muhasabah diri. Apakah kita sadar bahwa dengan mengatakan hal-hal tersebut telah membuat kita maju satu langkah, yaitu kita harus mengubah diri kita untuk menjadi lebih bermanfaat. Sebuah sympathy dan empathy terhadap keadaan. Sebuah awal jika kita dapat memanfaatkannya sehingga kita dapat bermanfaat. Moment dimana kita merasa tidak berguna dan mengolah situasi tersebut menjadi semangat baru. Pertahankan semangat itu, jangankan biarkan lemau seperti kerupuk. Yaitu dengan membenarkan kata-kata kita. Memanusiawikan sifat ketika diri merasa tak berguna. Selagi sempat, masih ada waktu manfaatkanlah moment-moment dimana kita merasa tak berguna. Karena moment-moment itu akan membawa kita menjadi lebih baik dan berguna.
Momen itulah yang membuat kita kembali bersemangat untuk mengerjakan impian. Tanggapilah dengan benar moment tersebut.. Dan jangan terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu tapi jadikan masa lalu bayangan pendorong untuk hidup lebih baik. Dan pikirkan hari disaat engkau masih bisa bernafas. Hari ini dan esok.
1 + 1 = ?
Ada yang bisa nebak hasilnya? 2, 11, atau…..bukan 2 dan bukan juga 11. Itu semua tergantung mind set (pola pikir) kita bagaimana melihat hasilnya. Jika kita masih menggunakan sudut pandang anak kecil jika ditanya 1 + 1 pasti = 2, tapi ketika SD dan sudah mulai banyak bergaul dengan teman-teman 1 + 1 mungkin saja 11 dengan alasan ngga pake =.
Pola pikir, adalah salah satu penentu kesuksesan seseorang. Jika orang kreatif dia mempunyai pola pikir yang bercabang-cabang. Banyak sekali alternatif-alternatif pemecahan malasah yang dapat dijadikannya peluang. Masalah bukan membuat dia berhenti berpikir tetapi masalah membuatnya semain berpikir kreatif dan inovatif.
Orang yang malas berpikir ketika ditanya 1+1 pasti dengan segera meraka menjawab = 2, tetapi orang yang kreatif diakan memberi banyak pilihan jawaban, “2”, “11”, “1000”, “kenyang” dan banyak lagi disertai dengan alasan-alasan yang logis. Contohnya: jika seorang kreatif sedang lapar diberi semangkok bakso kemudian diberi semangkok bakso lagi, mereka pasti akan berpikir 2 x untuk makan semangkok bakso yang baru diberikan? Mengapa?
Karena mereka berpikir, kalaulah mereka menghabiskan semangkok bakso lagi berarti hidup mereka akan biasa-biasa saja besok. Karena mereka berpikir makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Mereka memilih sabar dan cukup dengan semangkok sebelumnya tetapi mereka menerima semangkok bakso tersebut dengan menjualnya kepada orang lain. Uang hasil dari penjualan bakso tersebut mereka belikan permen dan menjual permen lagi. Dan seterusnya mereka pantang menyerah, karena sabar adalah kunci kesuksesan.
Bagaimana dengan tipe satunya lagi, orang malas berpikir. Tipe seperti ini pasti akan langsung memakan satunya lagi. Baginya hidup untuk makan. Dapat makan langsung santap. Saat itu memang dia bahagai? Tapi bagaimana dengan besok??
Labels:
Coretan hidup,
Motivasi,
My Notcha
Pesan Bapakku ( Coretan Hidup 3 )
Nasehat Bapak yang kutulis pada 26 Juni 2009 dan baru kutemukan setelah otak atik si Lena alias Leptop Nana. Meskipun yang dicari ngga ketemu tetapi membaca tulisan ini cukup menggetarkan hati, mengingat How care my father about me.
Subhanallah, pagi ini terasa begitu indah bagiku. Pagi-pagi aku sudah mendapat pelajaran berharga. Bapak mengingatkan ketika aku meminta ijin untuk pergi ke luar kota bersama teman-temanmu. Bapak juga tidak mengatakan kalau aku tidak boleh ikut, tapi jawaban dari bapak cukup menjawab keraguan hatiku.
“Ingat identitasmu sebagai muslimah” kata bapak. “kamu adalah seorang muslimah, coba pikir apa yang akan kamu lakukan ketika kamu pergi nanti? Apakah hijabmu masih terjaga?”
Ya, aku mengerti. Aku seorang muslimah bukan seorang wanita jahiliyah atau muslimah yang bertingkah laku layaknya jahiliyah karena membebek kepada barat yang beredar saat ini. Aku seorang akhwat yang harus menjaga akhlakku dan menjaga hijabku. Aku tidak bisa seenaknya. Jalan-jalan, ketawa-ketiwi bersama teman-teman dan menghambur-hamburkan uang. Lupa akan Allah dan hanya mementingkan kesenangan semata. Ya, aku adalah muslimah dan aku harus mempertahankan izzahku sebagai muslimah.
Rekreasi memang diperlukan tapi rekreasi yang syar’i. Dimana rekreasi itu merupakan istirahat sejenak dari aktifitas dakwah tetapi lebih meningkatkan keimanan kepada Allah. Rekreasi yang membuat kita semakin dekat dengan Allah. Rekreasi yang membuat kita segar kembali untuk mengemban amanah-amanah dakwah. Rekreasi yang menyegarkan pikiran dan siap berkonstribusi lebih untuk ekspansi dakwah. Itu yang dinamakan rekreasi, bukan senang-senang menghabiskan uang tanpa manfaat malah banyak mudharat.
Alhamdulillah, Allah masih menjagaku hari ini. Menjagaku dari keinginan hawa nafsuku. Menjagaku agar jauh dari godaan-godaan setan yang terlaknat dan menjaga izzahku sebagai muslimah. Syukron Bapak, atas kebijaksanaan dan nasehatmu.
Labels:
Coretan hidup,
My Notcha
SENJA DI KHATULISTIWA
Pandangan
matanya tertunduk, entah apa yang ada di lantai yang memantulkan wajah malu
dirinya. Aku juga sama hanya bisa tersenyum malu menatap lantai yang
memantulkan wajah pink ku.
“Jadi?” Kata bunda membuyarkan ketegangan diantara kami. “Jadi pak, saya
harap secepatnya” lanjut bunda.
“Iya bu, berarti
tinggal nentuin tanggalnya dan menurut saya semakin cepat semakin baik.” Kata
pak Daud ayah si lelaki.
“Menurut bapak
gimana?” Tanya bunda kepada ayah yang dijawab dengan beberapa anggukan.
“Bagaimana kalo
bulan depan, setelah Ramadhan” usul ayah.
“Insya Allah.”
Jawab pak Danu.
******
Seperti ombak detak jantungku,
itulah yang kurasakan saat Hengki mengkhitbahku. Sesuatu yang tidak pernah
kubayangkan sebelumnya, Apakah ini rahmat atau cobaan dari Mu ya Rabb? ketika
ku bayangkan betapa aku tidak pantas untuk bersanding dengannya membina
keluarga. Aku juga tidak bisa menolak saat ia dan bapaknya datang kerumahku
bahkan aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun hanya bisu memandangi lantai memantulkan
wajah maluku. Apalagi kedua orangtuaku telah terpesona dengan kesantunan,
kelembutan dan kearifan saat pria itu berbicara. Sehingga menurut kedua
orangtuaku Hengki adalah calon menantu yang paling cocok bersanding dengan anak
gadisnya.
“Hufh…”sudah berapa kali aku
menghembuskan nafas ini, entah perasaan bahagia, bingung atau takut semua
campur aduk bagai gado-gado. Seharian pikiranku galau, tetap merasa diri ini
tak pantas mendapat hadiah luar biasa. “Bangun Lia,bangun!!!” pintaku paksa
pada diri yang terkulai diatas tempat tidur. Aku memaksakan diri bangun dari
singasana terempuk menuju kamar mandi untuk berwudhu. “Hanya Dia yang dapat
menolongku.” ujarku dalam hati.
Ya Allah ya Rabb yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati
ini, hanya untuk beribadah kepadMu, jangan biarkan hati ini ragu untuk
mengambil keputusan yang Engkau ridhoi, tunjukkan yang terbaik untuk hambaMu
ini. Hamba tidak ingin salah dalam mengambil keputusan. Apakah ini cobaan dari
Mu? Jika menikah adalah cobaan dari Mu maka kuatkan pundak hamba untuk
memikulnya dan Apabila ini adalah caraMu menyayangi dan untuk menjaga hamba
agar semakin dekat denganmu, maka rahmatilah hamba dan berkahi keluarga yang
akan dibina nanti agar menjadi keluarga yang selalu dibawah naunganMu.
Sore ini, aku memutuskan melihat sunset di tugu khatulistiwa karena disanalah
tempat aku merenung ketika lagi sedih atau bahagia sambil memandangi sungai
kapuas yang tak sejernih dulu lagi.
“Alhamdulillah, sepi” aku bersyukur karena biasanya aku miris melihat
pasangan-pasangan muda yang seharusnya menjaga diri mereka. Mereka bilang
mereka sama-sama cinta dan menjalin hubungan yang namanya pacaran setidaknya
ini adalah masa penjajakan sebelum menikah. Cinta salah kaprah. Mereka sama
sekali tidak mengerti apa itu cinta. Naudzubillah. Seandainya mereka tahu cinta
sesungguhnya lebih indah dari cinta yang mereka rasa yaitu cinta kepada Rabb Maha
Pecinta.
Senja di khatulistiwa sungguh indah, subhanallah hanya Dia yang Maha
Cinta yang dapat menciptakan ini semua. Ya Allah senja hari ini sungguh beda,
warnanya berbeda dengan yang kemarin, hari ini lebih jingga dan cerah. Sungguh
mempesona keindahan bias jingga ciptaan Sang Pencipta. Aku terus berdzikir
dinaungi senja yang memberikan ketenangan dan menghilangkan rasa tidak
kepercayaan bahwa tadi malam aku dikhitbah oleh seorang jundi Allah. Pasti
Allah sedang menghiburku melalui senja
di khatulistiwa.
Sudah sewajarnya setiap wanita yang akan menikah membaca buku tentang
pernikahan karena mereka akan memulai hidup baru. Begitu juga denganku, memperbanyak
membaca buku-buku seri keluarga agar keyakinan untuk menikah semakin mantap. Tapi ada 1 hal membuat hatiku semakin mantap
untuk menuju sakral suci itu yaitu hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh
Tirmidzi:
“Jika kalian didatangi oleh laki-laki yang kalian ridha akan agama dan
akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, maka akan terjadi
fitnah dimuka bumi ini serta kerusakan yang luas” (HR. Tirmidzi dalam Kitab
An-Nikah”
Aku terus saja bersholawat selesai membaca hadist ini. Rasulullah memang
is the best, beliau telah memikirkan sedetail-detailnya untuk umatnya bahkan
masalah memilih pasangan. Tidak salah jika menjadi idolaku karena hanya
Rasulullah yang menuntunku pada kebaikan dan ketenangan hidup serta cara untuk
meraih surga yang sangat luas dan indah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
******
Seminggu menjelang ijab, degup jantung semakin kuat berdendang. Ya Allah,
tanda apakah ini? Mengapa jadi nervous begini? What’s going on? Perasaan apa
ini?. Kebingungan bahkan kepanikan serta ketakutan selalu menghantui selama
seminggu ini. Aku takut, aku takut jika ini adalah godaan dari setan terlaknat.
Apalagi langkah yang akan kuambil ini pasti lebih terjal jalannya dan lebih
curam jurangnya. Ya Allah, kuharap ini bukan setan tapi anugerah darimu agar
aku menyempurnakan imanku.
“Tok…tok…tok….Assalamualaikum” terdengar ketukan dan salam dari
luar pintu kamarku, suara lembut yang tidak asing, suara bundaku.
“Waalaikumsalam warohmatullahi wabaroatuh” jawabku sembari berjalan
membuka pintu.
“Bunda boleh masuk?”
Aku tersenyum sebagai tanda bunda boleh masuk kekamarku. Dari wajah bunda
aku yakin ada hal penting yang ingin bunda diskusikan denganku. Sudah menjadi
kebiasaan dirumah selalu musyawarah sebelum mengambil keputusan sehingga tidak
ada yang merasa dirugikan.
“Begini sayang…” bunda mulai membuka pembicaraan. “Ngga terasa seminggu
lagi kamu udah jadi istri orang, tanggung jawabmu juga tambah besar. Engkau
tidak lagi mempunyai satu keluarga yang harus dijaga nama baiknya tetapi
amanahmu bertambah dua keluarga, keluarga kita, keluargamu dan keluarga suamimu”.
“Iya bunda.” Aku merubah posisiu. Kuletakkan kepalaku diatas pangkuan
bunda.
“Bunda ingin engkau kelak menjaga kehormatan tiga keluarga ini apalagi
keluargamu karena kehormatan keluarga terletak pada seorang istri. Jadilah
istri yang sholehah dan buatlah suami selalu ridho padamu” lanjut bunda.
Aku mengangguk dan menatap wajah bunda yang penuh kasih menesehati putri kesayangan
kesayangannya.
“Oh ya…bunda mau memberi sesuatu untukmu”.
“Apa bunda?” tanyaku dengan rasa penasaran bangun dari pangkuan bunda.
“Nih” bunda memberiku sebuah kotak berwarna pink yang diikat dengan pita
pink, apik sekali.
“Boleh lia buka?” tanyaku, dibalas dengan anggukan bunda.
Subhanallah, Alhamdulillah, isinya sebuah kebaya putih. Cantik sekali. Lengan
tangannya panjang, panjang baju hingga lutut dihiasi dengan payet-payet
mengkilap. Baju pengantin yang syar’i, insya Allah tidak tembus pandang
walaupun kain bordir putih tetapi dalamnya ada kain putih lagi. Agak kebesaran
sih, tapi no problem. Kalo agak besar bentuk dan liku-liku tubuhku jadi tidak
nampak.
“Terima kasih bunda, subhanallah indah sekali” ujarku kagum.
“Baju itu memang bunda pesan khusus untuk putri kesayangan bunda”.
Aku memeluk tubuh bunda yang duduk tepat didepanku “Terima kasih, bunda”
Bisikku.
“sama-sama” jawab bunda.
******
Akad nikah tinggal dihitung jam. Jam tiga malam berarti tinggal 5 jam
lagi karena rencana akad nikahku akan dimulai jam delapan pagi ini. Solat malam
dan tilawah cukup menenangkan hati membuatku mantap untuk menatap esok.
Alhamdulillah semakin dekat waktunya, semakin hilang kecemasan, keraguan dan
ketakutan yang kurasa seperti perasaan kala senja di khatulistiwa.
(This story is dedicated to my best friend, Barokallah, jangan pernah ragu)



