Keesokan hari disekolah, aku melihat beberapa orang guru melingkar dan marah pada seorang anak. Awalnya, aku melihat senyum cengengesan sang anak. Tapi lambat laut, mungkin karena merasa dibohongi emosi para guru meninggi, bukan seperti menasehati tapi lebih tepat aku katakan memarahi. Si anak hanya tertunduk pasrah mendengar wejangan dari beberapa guru. Akhirnya aku tahu dia adalah anak yang dikabarkan meninggal kemarin. Astaghfirullah, hanya itu yang bisa aku ucapkan. Tetapi didalam hati aku berpikir, seandainya mereka tahu seperti apa itu kematian. Bahkan aku sendiri belum siap untuk menghadapinya. Pantaslah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata untuk banyak-banyak mengingat kematian sebagai pemutus kelezatan.
Kematian adalah sesuatu yang pasti. Bahkan Allah 'azza wa jalla beberapa kali mengingatkan manusia melalui Al-Qur'an bahwa setiap jiwa akan mati. Mengapa kita harus mendahului takdirnya? Wajar jika para guru itu marah ketika anak tersebut mengabarkan dirinya meninggal. Dunia memang penuh sanda gurau, tapi pantaskah jika kematian menjadi gurauan? Kita memang harus mengingat kematian tapi jika mengada-ngada tentang berita kematian itu sudah keterlaluan. Bisa jadi jika tiba waktu kita untk menjemput kematian, tak ada satupun orang yang percaya bahwa kita telah pergi dari dunia ini.
“
0 comments:
Post a Comment