RSS

Saturday, May 17, 2014

Sandal Aisyah


Aisyah berjalan pincang. Mengelilingi persimpangan lampu merah. nyeker, tanpa alas kaki. Ia terduduk, melihat telapak kaki yang merah terkelupas karena bergesekan dengan aspal panas. Ia meringis sakit karena perih. Rasanya ingin teriak, meraung cengeng seperti anak-anak seumurnya.  Namun hal itu tidak mungkin, hanya isak kecil dan tetes air mata menahan sakit yang keluar. Aisyah harus tegar demi mengejar setoran.
            Ia duduk di trotoar untuk menghitung uang hasil mengamen. "cuma tujuh ribu dua ratus" lirihnya. Lagi-lagi ia mringis meringis. Perih. Tapi ia usahakan untuk berdiri "Aku harus ngamen lagi agar bisa dapat diatas tiga puluh ribu. Tiga puluh ribu untuk setoran dan sisanya aku bisa nabung untuk beli sandal" katanya dengan suara parau menahan perih kakinya.
            Tiga puluh ribu adalah setoran yang harus didapat oleh si kecil Aisyah. Ia tak berharap barbie. Ia juga tak ingin baju baru. Ia hanya perlu sandal sebagai alas kaki. Dulu, Aisyah mempunyai sepasang sandal. Sandal jepit bergambar bunga-bunga. Sandal itu hadiah dari ibunya. Tapi sandal itu telah hilang terbawa arus sungai. Setiap melihat seorang anak yang memakai sandal jepit bunga-bunga, Aisyah sedih dan teringat hadiah terakhir ibu sebelum meninggal.
            Aisyah adalah anak yatim piatu. Ibunya baru sebulan meninggal dan ayahnya meninggal saat ia berumur setahun. Tak lama ibunya meninggal, kampung Aisyah dilanda banjir dan menghancurkan rumah kecilnya. Entah bagaimana ia bisa terpisah dari rombongan pengungsi dari kampungnya. Tapi kini ia hidup bersama anak-anak jalanan yang ditampung Bang Amat.
            Di sebuah rumah tua berantakan dan tak berpenghuni, Aisyah tinggal. Rumah yang dipagari ilalang tinggi dan lumut yang hampir menutupi seluruh dinding menawarkan hawa kengerian bagi yang melihatnya. Tak ada yang berani mendekat kecuali Bang Amat, sekutunya dan anak-anak jalanan yang dipekerjakan.
            Aisyah berdiri lagi. Kakinya telah di kompres dengan es batu. Kini ia menggunakan kantong kresek yang dipungutnya ditong sampah jalan. Ia membungkus kedua kakinya dengan kantong kresek sebagai pengganti alas kaki. Kemudian kembali berkerja menuju simpang-simpang lampu merah dan bernyanyi.
            Memang nasib menjadi anak jalanan. Pandangan buruk banyak ia dapatkan. Bahkan lebih parah, meskipun ia mengamen tapi statusnya sering disamakan dengan pengemis. Orang-orang dijalan hanya menganggap Aisyah berpura-pura membungkus kaki agar dikasihani. Tak sedikit mengatakan ‘tidak’ dan pura-pura tidak melihat. Namun ia tetap tersenyum meski ditolak. Terus berjalan mengamen tanpa alas kaki demi setoran, uang makan dan membeli sandal jepit bunga-bunga.
            "Ibu, mengapa engkau pergi dengan cepat? Maafin Aisyah ya bu, tak bisa menjaga sandal jepit bunga-bunga hadiah terakhir ibu, semuanya hanyut terbawa arus sungai" Ujar Aisyah sedih ketika melihat seorang anak menggunakan sandal seperti miliknya sedang bercengkrama bahagia dengan sang ibu. Aisyah ingat benar, saat arus sungai yang kuat menghancurkan kampung termasuk rumah dan menghanyutkan sandal jepit kesangannya. Untungnya ia selamat dan seorang preman bernama Amat menemukannya.
****
            Terseok-seok Aisyah berjalan menelusuri gang-gang dan perkampungan kecil di pinggir sungai. Terkadang ia singgah di salah satu tangga yang digunakan warga untuk turun ke sungai. Duduk dan makan ditangga sambil merendam telapak kakinya yang pecah-pecah penuh luka. Air sungai cukup meredakan sebentar keperihan yang dirasakan olehnya.
            Dirumah tua yang kotor dan lantai dengan hamparan kertas-kertas kardus, bang amat dan anak buahnya telah menanti. Telah antri teman-teman yang senasib dengan Aisyah. Masing-masing menyerahkan setorannya. Dan suara bentakan bang amat kerap terdengar jika mereka membawa setoran kurang atau ada yang mencoba menipunya.
            "Aisyah, sini sayang" panggil bang Amat. "Mana setorannya" lanjutnya ramah dan semua tahu itu akan jadi amarah jika setoran kurang.
            Aisyah dengan takut-takut maju mendekati bang amat. Dikeluarkannya kantong berisi uang receh dan beberapa ribuan. "Ini bang" kata Aisyah sambil menyerah kantongnya.
            Bang Amat menghitung uang setoran Aisyah. "Hei, aku heran dengan kamu, Aisyah" ujarnya.
            "He..heran kenapa bang?" tanya Aisyah gugup, takut bang Amat mengamuk.
            "Mengapa setoran uangnya pas, mana lebihnya. Kau sembunyikan ya.." bang amat berkata curiga. Di perhatikannya dengan seksama Aisyah. Hingga dilihatnya kaki Aisyah yang lecet.
            "Se..sebenarnya ada lebih se..sedikit bang. Tapi aku ingin beli sa..sandal jadi u..uangnya a..aku ta..tabung" jawab Aisyah ketakutan. Ibu mengajarkan Aisyah untuk selalu jujur. Kata Ibu jika kita jujur maka kita akan selamat.
            Bang Amat mengangguk. Ia diam dan berpikir. Raut mukanya tidak tampak wajah marah seperti dibohongi atau mendapat setoran yang kurang. Tapi diluar dugaan Aisyah, bang Amat malah menyuruhnya terus nyeker agar orang-orang lebih iba dan hasil yang didapat lebih banyak. "Mengapa kau tak terus saja menyeker seperti ini. Sandal akan menghambat kau mendapatkan uang. Sini, beri aku uang tabunganmu" katanya.
            "Ti..tidak bang. Aku ingin membeli sandal yang sama dengan sandal yang dibelikan oleh ibuku" kata Aisyah. Akhirnya ia berani membantah bang Amat.
            Mendapat penolakan dari Aisyah, bang Amat memanggil tangan kanannya untuk mengawasi Aisyah. Mencari dimana uang tabungan yang disimpan oleh Aisyah. Ia tak mau meminta secara paksa karena Aisyah adalah anak baru. Ia khawatir jika ia membentak Aisyah akan kabur. Dan itu mengurangi pendapatanya.
            "Oh, kau masih punya ibu rupanya" kata bang Amat. Dia memang tidak tahu mengenai asal-usul Aisyah. Ketika ia menemukan Aisyah yang tekatung dijalan, ia hanya menawarkan Aisyah tempat tinggal dan makanan. Aisyah yang baru berumur sepuluh tahun merasa senang karena bisa punya tempat tinggal dan makan. Tapi dia tak pernah menyangka akan disuruh bekerja di jalanan.
            "Ibuku sudah meninggal bang. Tapi meskipun ibu telah tiada tapi ia tetap hidup dalam hatiku" ujar Aisyah dengan rasa takut yang telah diusirnya, menunjuk dadanya meyakinkan bang amat bahwa ibu selalu hidup dalam hatinya.
            "Baiklah. Tidur sana kau" perintah bang Amat. "Jangan lupa sebelum tidur, kompres kakimu. Supaya besok, kau tetap bisa bekerja" lanjutnya.
            Seperti biasa gedung tua tempat Aisyah bernaung riuh. Meskipun begitu, cahaya lampu yang remang dan udara yang lembab memanjakan anak-anak lainnya untuk tertidur pulas. Semua tidur karena kelelahan. Yang terdengar hanya suara gombalan bang Amat yang menelpon kekasihnya dan suara ribut anak buah bang Amat yang mabuk. Suara dengingan nyamuk di telinga dan decakan cicak juga turut meramaikan pendengran Aisyah. Belum lagi dengkuran anak-anak yang sangat kelelahan seharian mengelilingi lampu merah. Semua mengalun menjadi satu simponi gedung tua berlumut.
             Aisyah tak dapat menutup mata. Bukan karena kakinya yang perih tetapi uang tabungan yang ia tabung selama sebulan sudah cukup untuk membeli sandal. Ia dan Farhan, temannya, telah merencanakan pelarian diri saat uang Aisyah telah cukup untuk membeli sandal jepit. Mereka tahu siasat bang Amat dan lambat laun uang tabungan itu akan dirampasnya.
****
             Pagi ini hujan gerimis menyertai. Semua anak jalanan sudah siap bertugas. Meski mata masih mengantuk dan badan yang ingin lebih lama bermalas-malasan, namun rasa takut pada bang Amat dan sekutunya mengalahkan semuanya. Mulut yang terus menguap dengan berjalan agak lunglai, mereka turun menelusuri gang-gang dan perkampungan kecil menuju lampu-lampu merah. Tak ada yang berani singgah atau berbelok arah karena anak buah bang Amat sigap mengawasi.
            Malam tadi, ketika semua telah tertidur, Aisyah dan Farhan bangun untuk membuat rencana. Tak ingin seperti ini selamanya. Tak ingin jadi gelandangan. Tak ingin jadi anak jalanan. Sudah cukup mereka merasakan hidup bagai neraka. Menerima celaan dan meminta rasa iba atas penderitaan yang dirasakan. Menghadapi skeptisme orang-orang yang kadang mengira mereka mau mencuri.
            “Sah, nanti aku akan mengalihkan perhatian bang Samsul dan bang Jaka. Saat mereka mengejarku, engkau cepat-cepat kabur. Kamu masih ingat tempat untuk bersembunyi yang waktu itu aku tunjukkan?” jelas Farhan. Farhan telah menganggap Aisyah seperti adiknya. Umur mereka terpaut lima tahun.
            “Iya bang” jawab Aisyah mengerti. “Nanti kita bertemu dimana?” lanjutnya bertanya.
            “Tempat yang aman. Rumah Allah. Kau beli saja sandal jepit bunga-bunga yang kau inginkan di toko dekat terminal. Aku pernah melihatnya dipajang disana. Setelah itu, pergilah keselatan. Disana ada sebuah masjid. Hanya di sana kita aman” jawab Farhan.
****
            Aisyah mencoba berbelok. Ada rasa takut dan ragu. Tapi keyakinan untuk kabur hari ini lebih tinggi dari rasa takut tersebut. Mencari celah agar terhindar dari pandangan para anak buah bang Amat yang terus mengawasinya. Sulit baginya untuk bergerak karena kali ini bang Samsul dan bang Jaka ekstra mengawasi Aisyah. Mereka telah menerima perintah dari bang Amat untuk mencari tahu dimana anak kecil itu menyimpan uang tabungannya.
            Tapi mereka terkecoh oleh Farhan. Aisyah  berhasil menyusup ke perkarangan salah satu warga yang Farhan tunjukan. Sedangkan, Farhan terus mengalihkan dua preman dengan berlari secepat mungkin. Dasar preman bodoh. Mereka lupa tugas utama mengawasi Aisyah. Mereka fokus pada Farhan yang kini juga telah hilang, bersembunyi kedalam tempat sampah.
            Aisyah merunduk bersembunyi diantara pagar dan gundukan karung pasir. Badan yang kecil memberi keuntungan baginya saat anak-anak buah bang Amat sadar mereka kehilangan Aisyah. Mereka kembali mencari Aisyah. Asiyah lebih penting dari Farhan. Jika besar Aisyah bisa menghasilkan uang yang lebih banyak lagi disbanding Farhan.
            Masih terdengar gema dari suara kedua pria besar memanggil nama Aisyah. Namun Aisyah tetap bertahan di persembunyianya hingga suara itu menghilang. Aisyah bangun dari persembunyiannya dan melihat sekeliling, mengecek apakah bang Samsul dan bang Jaka masih berada di sekitar ia bersembunyi. Situasi aman terkendali. Mereka telah pergi.
            Kaki yang masih perih kini hanya terasa seperti digigit serangga. Senyum merekah dibibir mungil Aisyah. "Aku berhasil" katanya. "Aku berhasil" kata Aisyah lagi dengan ekspresi yang lebih bahagia. Sifat anak-anaknya muncul kembali. Aisyah melompat-lompat. Aisyah menari. Aisyah tertawa dan tak berhenti bersyukur mengatakan bahwa ia berhasil. Hingga pemilik rumah terbangun dan mengusirnya.
            Aisyah terus berjalan menuju terminal. Tujuannya pertamanya adalah sebuah toko didekat terminal. Toko itu menjual sandal jepit bunga-bunga seperti yang dikatakan Farhan. Ia membeli sandal dengan motif bunga-bunga yang ternyata tinggal satu. Meskipun agak besar dan tak sama dengan sandal jepit yang diberikan oleh Ibu tapi Aisyah bahagia dia telah berhasil membelinya. Sandal jepit bunga-bunga yang memotivasinya untuk bertahan meski hidup sebagai anak jalanan.
            Kini tujuan berikutnya adalah masjid. Hanya masjid yang tak pernah dikunjungi bang Amat dan sekutunya. Dengan senyum merekah dan sepasang sandal jepit bunga-bunga baru, Aisyah berjalan. Di mesjid sebelah selatan terminal, Farhan telah menunggu. 

Antara IPK dan Aktif di Organisasi


Saat belajar bersama di kost, seorang adik yang juga salah satu penghuni kost bertanya tentang apa yang lebih penting IPK atau aktif di organisasi di kampus. Suatu hal yang membingungkan dan hal ini biasanya dirasakan oleh semua mahasiswa baru. Ada kegalauan antara harus belajar dengan giat agar IPK bagus atau aktif di organisasi. Bagi mereka dunia kampus adalah berbeda. Saatnya mereka melepas seragam putih abu-abu dan mulai mencari jati diri.
            Belajar pada tingkat universitas khususnya tingkat S1, kita akan dihadapi dengan kuliah dan organisasi. Ketika dibangku SMA, nilai selalu jadi prioritas utama dan organisasi hanya menjadi kegiatan tambahan bagi siswa. Hal ini berbeda dengan aktifitas di universitas dimana sering terjadi ketimpangan antara kuliah dan organisasi. Akibatnya banyak organisator yang drop out dan banyak juga mahasiswa yang kelak canggung turun kemasyarakat karena kurang berpengalaman dalam bersosialisasi.
            Memasuki dunia kampus, mahasiswa baru akan diperkenalkan dengan berbagai macam organisasi baik dari internal kampus maupun dari eksternal kampus. Mulai dari organisasi yang bergerak di politik, akademik, keagamaan, ekonomi, sosial, seni, budaya, penyiaran, tulis-menulis, pencinta alam dan lingkungan. Mahasiswa bebas memilih organisasi yang mereka minati. Dan mereka juga berhak memilih untuk tidak bergabung dengan organsasi apapun.
            Tawaran untuk bergabung dalam organisasi saat memasuki ranah kampus akan terus mengalir. Bukan hanya ketika kita baru menjadi mahasiswa, tetapi ketika sudah menjadi senior tawaran itu tetap ada. Tidak semua organisasi itu buruk karena yang buruk adalah bagaimana manajemen diri kita. Dan tidak semua mahasiswa yang bergabung dalam organisasi akan memperoleh IPK nasakom (nilai satu koma) atau menjadi anggota MPK (Mahasiswa penghuni kampus). Banyak juga mahasiswa berprestasi namun tetap gigih organisasi. Kembali pada manajemen diri dan motivasi diri.  Dua hal ini adalah kunci sukses dalam penempaan diri baik.
            Kampus sering dianalogikan sebagai miniatur kecil dari negara. Oleh karena itu bergabung di organisasi dianjurkan untuk mahasiswa. Organisasi tidak saja menampung minat, melaksanakan event atau kegiatan tetapi organisasi juga secara tidak langsung mengajarkan mahasiswa berpolitik. Di organisasi, mahasiswa juga belajar bersosialisai dengan mahasiswa lainnya baik pada tingkat program studi, fakultas maupun universitas. Organsasi juga dapat menjadi modal ketika terjun di masyarakat, terutama organisasi eksternal kampus yang biasanya melakukan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Banyak yang dipelajari di organisasi tetapi tidak kita dapat di ruangan kelas saat proses perkuliahan terjadi.
            Sayangnya ketika bergabung dalam organisasi, mahasiswa sering menomorduakan kuliah. Meskipun pada awal masuk tujuan utama adalah kuliah, namun organisasi terkadang dapat berubah menjadi prioritas saat telah bergelut didalamnya. Banyak yang lebih suka berkumpul untuk rapat dari pada masuk kelas mengikuti kuliah. Ketimpangan ini membagi dua jenis mahasiswa. Jenis yang pertama adalah mahasiswa kupu-kupu. Kupu-kupu berarti kuliah-pulang dan kuliah pulang. Sebuah analogi untuk mahasiswa yang fokus kuliah. Jenis yang kedua yaitu mahasiswa kura-kura. Kura-kura berarti kuliah-rapat, kuliah-rapat. Jenis yang ini menganalogikan mahasiswa yang sibuk antara kuliah dan organisasi. Jenis kura-kura inilah yang terkadang memprioritaskan organisasi dan terkadang lebih mengutamakan rapat daripada kuliah.
            Kembali ke pertanyaan awal apakah yang lebih penting IPK atau organisasi. Seberapakah penting IPK? Dan seberapa penting organisasi? Dua pertanyaan ini seharusnya menjadi pertanyaan dasar yang harus diajukan pada diri kita. Hal ini diharapkan agar tidak terjadi ketimpangan tetapi keseimbangan antara kedua hal ini. IPK bagus, lulus tepat waktu dan organisasi OK.
            Motivasi dalam melakukan sesuatu dapat menjadi alarm yang mengingatkan ketika ketimpangan itu terjadi. Apa motivasi awal kita kuliah? Apa motivasi kita mengikuti organisasi? Kedua motivasi antara kuliah dan organisasi haruslah jelas. Contohnya kuliah, ada yang awalnya mempunyai motivasi kuliah untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik sehingga kita belajar keras agar dapat masuk di program studi yang kita minati dan terus belajar agar IPK tinggi dan lulus tepat waktu. Sedangkan contoh dari motivasi mengikuti organisasi yaitu ingin menjalin relasi yang lebih luas dan menambah pengalaman. Selain motivasi yang berasal dari diri sendiri, ada motivasi yang datang dari lingkungan kita yang disebut dengan motivasi ekstrinsik. Motivasi ini biasanya berasal dari keluarga yaitu orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil. Dan terkadang keberhasilan itu diukur dengan lulus tepat waktu dan IPK yang baik.
            Kesimpulannya, tidak ada pilihan yang tidak beresiko. Motivasi dan manajemen diri menjadi solusi dari resiko tersebut. Manajemen diri yang baik dan motivasi yang kuat  akan menjadikan kita mahasiswa hebat. Sedangkan keraguan-raguan antara IPK dan organisasi dapat menjadi penghambat kesuksesan. Lagipula untuk memperoleh beasiswa atau suatu pekerjaan, bukan hanya IPK yang menjadi syarat tetapi juga pengalaman berorganisasi. Organisasi melatih kita menjadi pemimpin sedangkan prestasi di proses perkuliahan akan memperluas keilmuan. Mengutip status FB-nya motivator muda Setia Furqon Kholid:
Kuliah, jangan sekedar kuliah
Kuliah harus punya gairah
Nggak sekedar lelah
Atau menggugurkan tanggung jawab dan rasa bersalah
Harus ada tujuan disana
Harus ada manfaat disana
Harus ada karya disana
Karena kita dikenal, bukan dari seberapa panjang gelar yang dipasang
Tapi seberapa mampu mempertanggungjawabkan ilmu yang berkaitan dengan gelar yang disandang
Ijazah sarjana bukan artinya jalan tol untuk mudah bekerja
Tapi sejatinya nya amanah untuk jadi orang yang berguna
Toga dikenakan bukan puncak kesuksesan
Karena hakikat sukses sejati saat kita diwisuda di akhirat sana
Tak seperti nilai di dunia yang masih bisa diubah
Namun sejatinya, di akhirat parameter kesuksesan diukur
dari seberapa benar dan baik kita menjalani hidup di dunia
Semoga kita bisa menjadi mahasiswa yang sukses,
bukan hanya di dunia, tapi juga selamat di akhirat.
Aamiin

Malas???

Bingung mau nulis apa. Tapi pengen nulis. Ini akibat telah lama ngga nulis. 2 tahun ngga berkarya, ngga buat tulisan, ternyata melemahkan syaraf otak untuk menulis. What a worse!!! Habit, habit and habit. Kata ustadz. Felix jika ingin membentuk habit yang baik harus dengan repetisi alias pengulangan. Tapi... yang nama ngulang itu ada penyakit yang selalu mengikuti, penyaki M-A-L-A-S. Penyakit ini yang sering menghinggapi dan susah sekali untuk diusir. Hus..hus..malas pergilah.. (seandai malas itu kucing). :)
Padahal, Allah SWT selalu mengingatkan didalam QS. Al-Hasyr (59) ayat 18, yang isinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Pertama kali terenyuh dengan ayat ini saat pertemuan membahas dakwah sospol di kampus, tepatnya di fakultas hukum. Seorang senior membacakan ayat ini sebagai pembuka presentasinya. Yup... hendaklah kita memperhatikan apa yang kita perbuat untuk hari esok. Meskipun redaksi terjemahan surat tersebut yang dimaksud hari esok adalah akhirat, tapi menurutku tergantung NIAT. Apapun yang kita niatkan untuk Allah, maka akan berinvestasi untuk akhirat.

Hus Malas...Pergilah jauh-jauh dariku dan dari sahabat-sahabatku yang baca tulisan ini. Oh ya..selain motivasi Akhirat, sang Nabi juga telah mengajari kita Do'a pengusir malas. Bagi yang rajin membaca Al-Matsurat pagi dan petang pasti penyakit malas ngga  menjadi penyakit akut. Doanya mudah kok..
Allohumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasal, wa a'udzubika minal  jubni wal bukhlii, wa a'udzubika min ghalabatid dayni wa qohrir rijaal.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang.(HR. Bukhari)
So..so..masih Malas. Jangan jadikan rasa malas sebagai penyakit akut... And for me!!! Ganbate!!! Thesis must be done asap!!!

Tuesday, October 9, 2012

Album Biru


Kisah-kisah usang penuh kenangan
Tersusun rapi dalam selipan-selipan di album biru
Menunggu diingat saat senja
Sebagai simbol kebahagiaan yang pernah ada
(Solo, 9 Oktober 2012)

Peran Musik dalam Pendidikan



No music no dream, sebuah pesan dalam film Jepang yang menceritakan tentang musik bergenre underground, Death Metal. Pesan ini memaparkan bahwa musik dan liriknya menyodorkan mimpi kepada pendengar. Bahkan, musik kini dijadikan sebagai tehnik pengajaran yang memotivasi. Upaya penggunaan musik dalam dunia pendidikan ini mendapat respon positif  terbukti dari beberapa judul riset yang menggunakan musik dalam pembelajaran.
Musik sebagai alat motivasi
Motivasi adalah sesuatu yang memberi dorongan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam dunia pendidikan, musik digunakan oleh guru sebagai motivasi ekstrinsik yang dapat membuat siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar. Musik memberikan warna bahagia bagi siswa yang membuat mereka tidak merasa tegang dalam kelas. Menggunakan musik sebagai motivasi dapat dilakukan guru dengan mendengarkan musik kepada siswa  ketika mengerjakan soal atau bernyanyi bersama.

Thursday, August 23, 2012

Guru dan Kemajuan Bangsa


Guru adalah pembuka peradaban yang berperan besar membangun sumber daya berkualitas. Mendidik, membimbing dan mengarahkan sehingga manusia menjadi manusia seutuhnya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Guru juga menjadi kompas utama petunjuk arah menuju kemajuan. Oleh karena itu, guru adalah mahluk bijaksana yang dihormati dan disegani.
            Semakin maju zaman semakin maju pula pola pikir manusia. Tentu saja kemajuan ini tak terlepas dari guru meskipun ada teori mengatakan guru bukanlah faktor utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, guru tetap faktor yang tak bisa dipisahkan dari pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terungkap jelas dari sejarah terbentuknya negara maju seperti Amerika, Jepang, Inggris dan bangsa-bangsa terdepan lainnya.
            Ada sebuah cerita tentang negara superpower Asia, Jepang. Ketika Hirosima dan Nagasaki hancur terkena bom atom, hal yang dilakukan Kaisar Jepang adalah menanyakan berapa guru yang tersisa. Hal ini dikarenakan awal kebangkitan Jepang berasal dari seorang guru. Guru yang memberikan Aufklarung atau pencerahan kepada pemuda Jepang sehingga menjadi penggiat belajar dan awal revolusi ilmu di negeri Sakura ini.
Guru dikenal di Jepang pada Era Meiji dengan istilah sensei. Saat bangsa-bangsa Barat memasuki dan mengintervensi Jepang munculah seorang guru muda Yoshida Shoin. Yoshida Shoin adalah invisible teacher.  Pengaruhnya yang singkat namun luar biasa melahirkan tokoh-tokoh pembangun peradaban Jepang pada masa Restorasi Meiji (Eko Laksono, Imperium III, 2009). Yoshida adalah pemuda yang mempunyai Nasionalis tinggi terhadap bangsanya. Ia tidak suka dengan Barat. Tapi, keingintahuan yang tinggi dan semangat mendapat ilmu membuatnya nekat menyelinap kekapal milik Barat. Meskipun akhirnya berakhir d penjara. Setelah bebas dari masa tahanan, Yoshida meneruskan sekolahnya dan mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak menutup diri dan mulai belajar dari orang-orang Barat. Pada umur 28 tahun, Yoshida dihukum mati.  Namun, Yoshida telah memberi perubahan pada Jepang dan menjadi inspirasi bagi pemimpin Jepang. 
Seorang guru yang juga berpengaruh di Asia terutama Cina, Jepang dan Korea adalah Konfusius. Seorang filsuf, pemikir dan pendidik dari tanah Cina, lahir di Shandong 551 SM. Jika kita pernah menonton film Confucius (2010) maka kita akan melihat scene dimana seorang murid rela mati hanya untuk mengambil parkamen, catatan-catatan sang guru yang dianggap lebih penting dari nyawanya. Konfusius menanamkan kecintaan terhadap ilmu kepada murid-muridnya. Salah satu analek konfusius yang terkenal yaitu “Buku itu adalah seperti gudang berisi emas”. Konfusius adalah invisible teacher, karena hanya mempelajari analeknya saja dapat mempengaruhi negara-negara yang sekarang menjadi penguasa Asia. Kemudian ajaran konfusius dijadikan ajaran yang tak berhenti diajarkan di Cina, Jepang dan Korea.
Muhammad SAW, adalah seorang guru besar bagi umat muslim. Michael Hart penulis 100 orang paling berpengaruh di dunia menjadikan Muhammad SAW sebagai nomor satu orang yang paling berpengaruh. Jika Yoshida menjadi inspirasi tokoh-tokoh Restorasi Meiji, Konfusius menjadi ajaran wajib Cina, Jepang dan Korea, maka Muhammad SAW adalah tokoh yang menginspirasi dunia. Muhammad adalah guru yang mengajar dengan keteladanan. Muhammad SAW adalah guru yang sangat mencintai ilmu. Dia bahkan menyuruh umat Islam belajar hingga ke negeri Cina.
 Cina adalah peradaban tertua dan sejarahnya paling maju di dunia. Oleh karena itu, Muhammad SAW menyuruh pengikutnya untuk tidak hanya berdiam diri ditanah Arab tetapi menjelajahi dunia dan belajar. Menyerap ilmunya. Berkat Muhammad SAW, umat Islam menjadi besar dan tidak lagi bodoh. Bahkan Islam pernah menjadi peradaban paling maju yang menginspirasi kebangkitan Eropa (Laksono, 2009). Orang-orang Islam terus belajar dengan  menjadikan Muhammad sebagai teladan dalam mencintai ilmu dan semangat dalam mencarinya.  
Teacher is a king. Guru adalah raja, paling tidak guru adalah raja di kelas. Raja bagi murid-muridnya. Namun guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid bukanlah kerbau (Soe Hok Gie, 1942-1969). Guru tidak bisa menjadi diktator layaknya Hitler. Karena belajar bukan hanya dari guru ke siswa. Belajar adalah individual sense-making. Belajar adalah creating knowledge with others. Itulah yang diungkapkan oleh Watkins dkk, dalam buku Effective Learning in the Classroom (2007). Layaknya seorang Raja yang ingin membuat negaranya sejahtera maka kepiawaian Raja harus dapat membuat rakyat mandiri sehingga bangsa yang dipimpin berkembang.  Dan begitu juga seorang guru di kelas yang harus piawai membuat murid-muridnya mandiri dalam memperoleh pengetahuan. Dengan menciptakan suasana penuh semangat, bahagia tanpa tekanan dalam belajar. Mengajarkan bahwa ilmu tak hanya dari seorang guru, semangat mencarinya dan keinginan untuk menjadi generasi unggul yang bermanfaat adalah nilai yang lebih tinggi dari skor 100 atau nilai A.
Oleh karena itu, guru harus mendidik muridnya untuk terbuka pada ilmu yang lebih luas bukan hanya terfokus pada guru yang mengajar dikelas. Guru terkadang harus menjadi seorang yang tak terlihat. Seperti Raja yang tak semua rakyat dapat melihatnya, namun mereka tetap terus berusaha bersama untuk mensejahterakan negeri. Untuk itu Raja harus berpikir bagaimana mempertahankan loyalitas rakyat agar terus meningkatkan diri memajukan bangsanya. Begitu halnya dengan guru, harus dapat membuat muridnya tetap belajar meskipun tanpa kehadiran bimbingan darinya. Karena belajar bukan satu arah, guru ke siswa. Tetapi belajar dapat dilakukan dimana saja, kapanpun dan bersama apapun dan siapapun. Karena ilmu tidak terbatas.
Seorang invisible teacher adalah pendidik yang memberi bekas mendalam meskipun dia tidak dalam keadaan mengajar. Guru yang menjadi motor bagi murid-muridnya untuk tetap menggali ilmu meskipun sang guru mendampingi. Selain itu, menjadi Invisible teacher juga harus terus dan mau memperbaiki diri dengan meningkatkan kualiatas ilmu dan cara mengajarnya. Dia harus menjadi teladan bagi murid-muridnya. Visinya bukan hanya mentrasfer ilmu yang ia miliki tetapi juga membuat anak didik dapat mengembangkan ilmu yang ditransfer. Bahkan lebih hebat dari gurunya.
Sejarah Indonesia juga mencatat banyak invisible teachers. Mulai dari Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan Nasional, Kartini dengan pendapatnya mengenai pentingnya pendidikan dan penyerapan teknologi Barat, BJ Habibi dan banyak lagi yang bisa kita ambil contoh. Seperti Yoshida yang penuh dengan keingitahuan, Kofusisus yang mengajarkan untuk lebih harmoni dan Muhammad Saw, sang teladan sejati adalah invisible teachers. Guru sepanjang masa yang ajarannya tak terlupakan. Menjadi guru teladan yang memberi semangat dan inspirasi untuk memperoleh ilmu yang lebih luas, meskipun tanpa harus ada sang guru. 

SAAT GURU MENJADI IDOLA


Saat ini guru menjadi topik yang paling seru untuk dibicarakan. Guru menjadi tema utama dalam rubrik di media massa. Ditambah lagi seminar-seminar pendidikan yang mengangkat tema tentang guru. Mulai dari profesionalitas, cara mengajar, bahkan universitas yang menyediakan fakultas keguruan menjadi serbuan. Selain itu, berita tentang demo yang dilakukan oleh guru juga menjadi berita hangat. Tak pelak, saat ini guru menjadi idola.
Apakah karena gaji besar yang dijanjikan? Atau pekerjaan yang memuliakan? Profesi guru menjadi salah satu yang diinginkan dan dicita-citakan oleh anak-anak muda saat ini. Bahkan, banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi guru. Hal ini terbukti, dari minat yang tinggi terhadap fakultas keguruan.
Namun sayang, saat guru menjadi idola ada sesuatu yang hilang. Prioritas menjadi guru hanyalah sebagai pekerjaan yang mudah didapat dan dapat  memberi gaji menjanjikan apalagi jika guru tersebut lulus sertifikasi profesi guru. Sebagaimana yang diungkapan oleh Anis Baswedan, pencetus Gerakan Indonesia Mengajar dalam dialog bersama Desi Anwar di salah satu televisi swasta (7/7/2012) “A teacher must be role model.  We don’t fight to get a job but we do fight to do this job”.  Keteladanan adalah hal yang mulai terkikis ketika guru bekerja hanya untuk uang. Pendapatan menjadikan profesi guru hanyalah sebatas pekerjaan untuk menyampaikan materi dari buku, memberi tugas dan nilai. Esensi utama seorang guru yaitu mendidik dengan keteladanan dinomor duakan.
Pendidikan berbasis karakter, sebuah  kebijakan Kementrian Pendidikan Nasional pada tahun 2011 diharapkan dapat menjadi tonggak dalam membangun karakter anak bangsa dan terwujudnya Indonesia Emas 2025. Pendidikan karakter ini dijabarkan dalam enam pilar karakter yang terdiri dari trustworthiness (kepercayaan), Respect (Respek), Responsibility (Tanggungjawab), Fairness (Keadilan), Caring (Peduli), Citizenship (Kewarganegaraan). Keenam pilar yang akan lebih mudah dibangun jika telah berdiri tegak dalam diri sang guru.
Saat guru menjadi idola maka guru adalah panutan. Guru akan digugu dan ditiru. Guru bukan hanya simbol pendidikan yang mentransfer ilmu dalam kelas. Lebih dari itu, guru harus mengalahkan ketenaran idola yang diidolakan para muridnya. Tapi sayangnya di Indonesia, guru tidak menjadi idola. Mirisnya, ada sebuah julukan bagi guru yaitu the killer. Guru adalah monster yang menakutkan. Peran idola lebih kini disandang oleh boys dan girls band, artis, aktor dan smeua yang tampil dalam kotak persegi empat yang disebut televisi.             Thomas L. Friedman menuliskan sebuah perbandingan antara anak-anak Cina dengan Amerika dalam tulisannya The World is Flat (2006) “saat ini di Cina, Bill Gates adalah Britney Spears. Di Amerika, Britneys Spears adalah Britney Spears, dan itulah masalah kita”. Kepedulian Friedman terhadap generasi di Amerika, seharusnya menyadarkan kita bagaimana keadaan anak-anak di Indonesia. Kecintaan anak-anak pada hiburan saat ini tampak lebih besar daripada kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, mutu pendidikan di Indonesia tidak akan meningkat secara signifikan. Berbeda halnya dengan Cina yang saat ini meroket menyaingi Amerika.
Contoh nyata dari keteladanan tampak dari guru terhebat Muhammad Saw. Sebagaimana yang tercantum dalam terjemahan  Q.S Al-Ahzab: 21 yang berbunyi “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…”. Rasulullah, sosok guru yang pengaruhnya dapat dirasakan hingga saat ini. Keteladanannya tidak hanya dicontoh oleh pengikut pada masanya tetapi juga diikut oleh orang-orang yang menjadikannya idola hingga saat ini. Hal ini membuktikan teladan dari guru adalah pilar paling utama sebelum enam pilar karakter tersebut. Pengaruh teladan yang tampak dari seorang guru dapat lebih mudah diterima daripada karakter yang hanya diajar lewat teori dari buku.
            Mengidolakan diri bagi guru bukanlah hal mudah disaat idola-idola dunia hiburan menjadi sebuah euphoria bagi anak-anak Indonesia. Anak-anak Indonesia lebih senang mendengarkan lagu-lagu popular seperti lagu Pop, K-Pop, Rock yang dinyanyikan idola mereka dari pada penjelasan guru mereka. Bahkan mereka tak segan berdandan ala sang idola. Cita-cita ingin jadi boysband atau girlsband, artis, aktor telah terframe kuat dalam pikiran mereka.
            Tetapi bukanlah tidak mungkin bagi guru untuk menjadi idola. Hanya diperlukan kerja keras, kreatifitas dan semangat untuk menjadi idola. Guru harus mengembalikan fitrah asli sebagai guru yaitu menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Berjuang dengan sungguh-sungguh dalam mendidik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa tekanan dan menjadi idola yang pantas untuk ditiru oleh anak-anak didiknya. 
            My teacher is my idol. Guruku idolaku. Saatnya guru menjadi idola. Idola yang selalu ditunggu kedatangannya untuk mengajar. Idola yang di gugu dan ditiru. Idola yang membawa Indonesia menjadi negara terdepan yang siap menyaingi negara maju di dunia. Saat guru menjadi idola maka bukan tidak mungkin Indonesia emas 2025 akan terwujud.