RSS

Saturday, May 17, 2014

Antara IPK dan Aktif di Organisasi


Saat belajar bersama di kost, seorang adik yang juga salah satu penghuni kost bertanya tentang apa yang lebih penting IPK atau aktif di organisasi di kampus. Suatu hal yang membingungkan dan hal ini biasanya dirasakan oleh semua mahasiswa baru. Ada kegalauan antara harus belajar dengan giat agar IPK bagus atau aktif di organisasi. Bagi mereka dunia kampus adalah berbeda. Saatnya mereka melepas seragam putih abu-abu dan mulai mencari jati diri.
            Belajar pada tingkat universitas khususnya tingkat S1, kita akan dihadapi dengan kuliah dan organisasi. Ketika dibangku SMA, nilai selalu jadi prioritas utama dan organisasi hanya menjadi kegiatan tambahan bagi siswa. Hal ini berbeda dengan aktifitas di universitas dimana sering terjadi ketimpangan antara kuliah dan organisasi. Akibatnya banyak organisator yang drop out dan banyak juga mahasiswa yang kelak canggung turun kemasyarakat karena kurang berpengalaman dalam bersosialisasi.
            Memasuki dunia kampus, mahasiswa baru akan diperkenalkan dengan berbagai macam organisasi baik dari internal kampus maupun dari eksternal kampus. Mulai dari organisasi yang bergerak di politik, akademik, keagamaan, ekonomi, sosial, seni, budaya, penyiaran, tulis-menulis, pencinta alam dan lingkungan. Mahasiswa bebas memilih organisasi yang mereka minati. Dan mereka juga berhak memilih untuk tidak bergabung dengan organsasi apapun.
            Tawaran untuk bergabung dalam organisasi saat memasuki ranah kampus akan terus mengalir. Bukan hanya ketika kita baru menjadi mahasiswa, tetapi ketika sudah menjadi senior tawaran itu tetap ada. Tidak semua organisasi itu buruk karena yang buruk adalah bagaimana manajemen diri kita. Dan tidak semua mahasiswa yang bergabung dalam organisasi akan memperoleh IPK nasakom (nilai satu koma) atau menjadi anggota MPK (Mahasiswa penghuni kampus). Banyak juga mahasiswa berprestasi namun tetap gigih organisasi. Kembali pada manajemen diri dan motivasi diri.  Dua hal ini adalah kunci sukses dalam penempaan diri baik.
            Kampus sering dianalogikan sebagai miniatur kecil dari negara. Oleh karena itu bergabung di organisasi dianjurkan untuk mahasiswa. Organisasi tidak saja menampung minat, melaksanakan event atau kegiatan tetapi organisasi juga secara tidak langsung mengajarkan mahasiswa berpolitik. Di organisasi, mahasiswa juga belajar bersosialisai dengan mahasiswa lainnya baik pada tingkat program studi, fakultas maupun universitas. Organsasi juga dapat menjadi modal ketika terjun di masyarakat, terutama organisasi eksternal kampus yang biasanya melakukan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Banyak yang dipelajari di organisasi tetapi tidak kita dapat di ruangan kelas saat proses perkuliahan terjadi.
            Sayangnya ketika bergabung dalam organisasi, mahasiswa sering menomorduakan kuliah. Meskipun pada awal masuk tujuan utama adalah kuliah, namun organisasi terkadang dapat berubah menjadi prioritas saat telah bergelut didalamnya. Banyak yang lebih suka berkumpul untuk rapat dari pada masuk kelas mengikuti kuliah. Ketimpangan ini membagi dua jenis mahasiswa. Jenis yang pertama adalah mahasiswa kupu-kupu. Kupu-kupu berarti kuliah-pulang dan kuliah pulang. Sebuah analogi untuk mahasiswa yang fokus kuliah. Jenis yang kedua yaitu mahasiswa kura-kura. Kura-kura berarti kuliah-rapat, kuliah-rapat. Jenis yang ini menganalogikan mahasiswa yang sibuk antara kuliah dan organisasi. Jenis kura-kura inilah yang terkadang memprioritaskan organisasi dan terkadang lebih mengutamakan rapat daripada kuliah.
            Kembali ke pertanyaan awal apakah yang lebih penting IPK atau organisasi. Seberapakah penting IPK? Dan seberapa penting organisasi? Dua pertanyaan ini seharusnya menjadi pertanyaan dasar yang harus diajukan pada diri kita. Hal ini diharapkan agar tidak terjadi ketimpangan tetapi keseimbangan antara kedua hal ini. IPK bagus, lulus tepat waktu dan organisasi OK.
            Motivasi dalam melakukan sesuatu dapat menjadi alarm yang mengingatkan ketika ketimpangan itu terjadi. Apa motivasi awal kita kuliah? Apa motivasi kita mengikuti organisasi? Kedua motivasi antara kuliah dan organisasi haruslah jelas. Contohnya kuliah, ada yang awalnya mempunyai motivasi kuliah untuk mendapatkan pekerjaan lebih baik sehingga kita belajar keras agar dapat masuk di program studi yang kita minati dan terus belajar agar IPK tinggi dan lulus tepat waktu. Sedangkan contoh dari motivasi mengikuti organisasi yaitu ingin menjalin relasi yang lebih luas dan menambah pengalaman. Selain motivasi yang berasal dari diri sendiri, ada motivasi yang datang dari lingkungan kita yang disebut dengan motivasi ekstrinsik. Motivasi ini biasanya berasal dari keluarga yaitu orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil. Dan terkadang keberhasilan itu diukur dengan lulus tepat waktu dan IPK yang baik.
            Kesimpulannya, tidak ada pilihan yang tidak beresiko. Motivasi dan manajemen diri menjadi solusi dari resiko tersebut. Manajemen diri yang baik dan motivasi yang kuat  akan menjadikan kita mahasiswa hebat. Sedangkan keraguan-raguan antara IPK dan organisasi dapat menjadi penghambat kesuksesan. Lagipula untuk memperoleh beasiswa atau suatu pekerjaan, bukan hanya IPK yang menjadi syarat tetapi juga pengalaman berorganisasi. Organisasi melatih kita menjadi pemimpin sedangkan prestasi di proses perkuliahan akan memperluas keilmuan. Mengutip status FB-nya motivator muda Setia Furqon Kholid:
Kuliah, jangan sekedar kuliah
Kuliah harus punya gairah
Nggak sekedar lelah
Atau menggugurkan tanggung jawab dan rasa bersalah
Harus ada tujuan disana
Harus ada manfaat disana
Harus ada karya disana
Karena kita dikenal, bukan dari seberapa panjang gelar yang dipasang
Tapi seberapa mampu mempertanggungjawabkan ilmu yang berkaitan dengan gelar yang disandang
Ijazah sarjana bukan artinya jalan tol untuk mudah bekerja
Tapi sejatinya nya amanah untuk jadi orang yang berguna
Toga dikenakan bukan puncak kesuksesan
Karena hakikat sukses sejati saat kita diwisuda di akhirat sana
Tak seperti nilai di dunia yang masih bisa diubah
Namun sejatinya, di akhirat parameter kesuksesan diukur
dari seberapa benar dan baik kita menjalani hidup di dunia
Semoga kita bisa menjadi mahasiswa yang sukses,
bukan hanya di dunia, tapi juga selamat di akhirat.
Aamiin

Malas???

Bingung mau nulis apa. Tapi pengen nulis. Ini akibat telah lama ngga nulis. 2 tahun ngga berkarya, ngga buat tulisan, ternyata melemahkan syaraf otak untuk menulis. What a worse!!! Habit, habit and habit. Kata ustadz. Felix jika ingin membentuk habit yang baik harus dengan repetisi alias pengulangan. Tapi... yang nama ngulang itu ada penyakit yang selalu mengikuti, penyaki M-A-L-A-S. Penyakit ini yang sering menghinggapi dan susah sekali untuk diusir. Hus..hus..malas pergilah.. (seandai malas itu kucing). :)
Padahal, Allah SWT selalu mengingatkan didalam QS. Al-Hasyr (59) ayat 18, yang isinya:
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Pertama kali terenyuh dengan ayat ini saat pertemuan membahas dakwah sospol di kampus, tepatnya di fakultas hukum. Seorang senior membacakan ayat ini sebagai pembuka presentasinya. Yup... hendaklah kita memperhatikan apa yang kita perbuat untuk hari esok. Meskipun redaksi terjemahan surat tersebut yang dimaksud hari esok adalah akhirat, tapi menurutku tergantung NIAT. Apapun yang kita niatkan untuk Allah, maka akan berinvestasi untuk akhirat.

Hus Malas...Pergilah jauh-jauh dariku dan dari sahabat-sahabatku yang baca tulisan ini. Oh ya..selain motivasi Akhirat, sang Nabi juga telah mengajari kita Do'a pengusir malas. Bagi yang rajin membaca Al-Matsurat pagi dan petang pasti penyakit malas ngga  menjadi penyakit akut. Doanya mudah kok..
Allohumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasal, wa a'udzubika minal  jubni wal bukhlii, wa a'udzubika min ghalabatid dayni wa qohrir rijaal.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang, dan kesewenang-wenangan orang.(HR. Bukhari)
So..so..masih Malas. Jangan jadikan rasa malas sebagai penyakit akut... And for me!!! Ganbate!!! Thesis must be done asap!!!

Tuesday, October 9, 2012

Album Biru


Kisah-kisah usang penuh kenangan
Tersusun rapi dalam selipan-selipan di album biru
Menunggu diingat saat senja
Sebagai simbol kebahagiaan yang pernah ada
(Solo, 9 Oktober 2012)

Peran Musik dalam Pendidikan



No music no dream, sebuah pesan dalam film Jepang yang menceritakan tentang musik bergenre underground, Death Metal. Pesan ini memaparkan bahwa musik dan liriknya menyodorkan mimpi kepada pendengar. Bahkan, musik kini dijadikan sebagai tehnik pengajaran yang memotivasi. Upaya penggunaan musik dalam dunia pendidikan ini mendapat respon positif  terbukti dari beberapa judul riset yang menggunakan musik dalam pembelajaran.
Musik sebagai alat motivasi
Motivasi adalah sesuatu yang memberi dorongan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam dunia pendidikan, musik digunakan oleh guru sebagai motivasi ekstrinsik yang dapat membuat siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar. Musik memberikan warna bahagia bagi siswa yang membuat mereka tidak merasa tegang dalam kelas. Menggunakan musik sebagai motivasi dapat dilakukan guru dengan mendengarkan musik kepada siswa  ketika mengerjakan soal atau bernyanyi bersama.

Thursday, August 23, 2012

Guru dan Kemajuan Bangsa


Guru adalah pembuka peradaban yang berperan besar membangun sumber daya berkualitas. Mendidik, membimbing dan mengarahkan sehingga manusia menjadi manusia seutuhnya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Guru juga menjadi kompas utama petunjuk arah menuju kemajuan. Oleh karena itu, guru adalah mahluk bijaksana yang dihormati dan disegani.
            Semakin maju zaman semakin maju pula pola pikir manusia. Tentu saja kemajuan ini tak terlepas dari guru meskipun ada teori mengatakan guru bukanlah faktor utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, guru tetap faktor yang tak bisa dipisahkan dari pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini terungkap jelas dari sejarah terbentuknya negara maju seperti Amerika, Jepang, Inggris dan bangsa-bangsa terdepan lainnya.
            Ada sebuah cerita tentang negara superpower Asia, Jepang. Ketika Hirosima dan Nagasaki hancur terkena bom atom, hal yang dilakukan Kaisar Jepang adalah menanyakan berapa guru yang tersisa. Hal ini dikarenakan awal kebangkitan Jepang berasal dari seorang guru. Guru yang memberikan Aufklarung atau pencerahan kepada pemuda Jepang sehingga menjadi penggiat belajar dan awal revolusi ilmu di negeri Sakura ini.
Guru dikenal di Jepang pada Era Meiji dengan istilah sensei. Saat bangsa-bangsa Barat memasuki dan mengintervensi Jepang munculah seorang guru muda Yoshida Shoin. Yoshida Shoin adalah invisible teacher.  Pengaruhnya yang singkat namun luar biasa melahirkan tokoh-tokoh pembangun peradaban Jepang pada masa Restorasi Meiji (Eko Laksono, Imperium III, 2009). Yoshida adalah pemuda yang mempunyai Nasionalis tinggi terhadap bangsanya. Ia tidak suka dengan Barat. Tapi, keingintahuan yang tinggi dan semangat mendapat ilmu membuatnya nekat menyelinap kekapal milik Barat. Meskipun akhirnya berakhir d penjara. Setelah bebas dari masa tahanan, Yoshida meneruskan sekolahnya dan mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak menutup diri dan mulai belajar dari orang-orang Barat. Pada umur 28 tahun, Yoshida dihukum mati.  Namun, Yoshida telah memberi perubahan pada Jepang dan menjadi inspirasi bagi pemimpin Jepang. 
Seorang guru yang juga berpengaruh di Asia terutama Cina, Jepang dan Korea adalah Konfusius. Seorang filsuf, pemikir dan pendidik dari tanah Cina, lahir di Shandong 551 SM. Jika kita pernah menonton film Confucius (2010) maka kita akan melihat scene dimana seorang murid rela mati hanya untuk mengambil parkamen, catatan-catatan sang guru yang dianggap lebih penting dari nyawanya. Konfusius menanamkan kecintaan terhadap ilmu kepada murid-muridnya. Salah satu analek konfusius yang terkenal yaitu “Buku itu adalah seperti gudang berisi emas”. Konfusius adalah invisible teacher, karena hanya mempelajari analeknya saja dapat mempengaruhi negara-negara yang sekarang menjadi penguasa Asia. Kemudian ajaran konfusius dijadikan ajaran yang tak berhenti diajarkan di Cina, Jepang dan Korea.
Muhammad SAW, adalah seorang guru besar bagi umat muslim. Michael Hart penulis 100 orang paling berpengaruh di dunia menjadikan Muhammad SAW sebagai nomor satu orang yang paling berpengaruh. Jika Yoshida menjadi inspirasi tokoh-tokoh Restorasi Meiji, Konfusius menjadi ajaran wajib Cina, Jepang dan Korea, maka Muhammad SAW adalah tokoh yang menginspirasi dunia. Muhammad adalah guru yang mengajar dengan keteladanan. Muhammad SAW adalah guru yang sangat mencintai ilmu. Dia bahkan menyuruh umat Islam belajar hingga ke negeri Cina.
 Cina adalah peradaban tertua dan sejarahnya paling maju di dunia. Oleh karena itu, Muhammad SAW menyuruh pengikutnya untuk tidak hanya berdiam diri ditanah Arab tetapi menjelajahi dunia dan belajar. Menyerap ilmunya. Berkat Muhammad SAW, umat Islam menjadi besar dan tidak lagi bodoh. Bahkan Islam pernah menjadi peradaban paling maju yang menginspirasi kebangkitan Eropa (Laksono, 2009). Orang-orang Islam terus belajar dengan  menjadikan Muhammad sebagai teladan dalam mencintai ilmu dan semangat dalam mencarinya.  
Teacher is a king. Guru adalah raja, paling tidak guru adalah raja di kelas. Raja bagi murid-muridnya. Namun guru bukanlah dewa yang selalu benar dan murid bukanlah kerbau (Soe Hok Gie, 1942-1969). Guru tidak bisa menjadi diktator layaknya Hitler. Karena belajar bukan hanya dari guru ke siswa. Belajar adalah individual sense-making. Belajar adalah creating knowledge with others. Itulah yang diungkapkan oleh Watkins dkk, dalam buku Effective Learning in the Classroom (2007). Layaknya seorang Raja yang ingin membuat negaranya sejahtera maka kepiawaian Raja harus dapat membuat rakyat mandiri sehingga bangsa yang dipimpin berkembang.  Dan begitu juga seorang guru di kelas yang harus piawai membuat murid-muridnya mandiri dalam memperoleh pengetahuan. Dengan menciptakan suasana penuh semangat, bahagia tanpa tekanan dalam belajar. Mengajarkan bahwa ilmu tak hanya dari seorang guru, semangat mencarinya dan keinginan untuk menjadi generasi unggul yang bermanfaat adalah nilai yang lebih tinggi dari skor 100 atau nilai A.
Oleh karena itu, guru harus mendidik muridnya untuk terbuka pada ilmu yang lebih luas bukan hanya terfokus pada guru yang mengajar dikelas. Guru terkadang harus menjadi seorang yang tak terlihat. Seperti Raja yang tak semua rakyat dapat melihatnya, namun mereka tetap terus berusaha bersama untuk mensejahterakan negeri. Untuk itu Raja harus berpikir bagaimana mempertahankan loyalitas rakyat agar terus meningkatkan diri memajukan bangsanya. Begitu halnya dengan guru, harus dapat membuat muridnya tetap belajar meskipun tanpa kehadiran bimbingan darinya. Karena belajar bukan satu arah, guru ke siswa. Tetapi belajar dapat dilakukan dimana saja, kapanpun dan bersama apapun dan siapapun. Karena ilmu tidak terbatas.
Seorang invisible teacher adalah pendidik yang memberi bekas mendalam meskipun dia tidak dalam keadaan mengajar. Guru yang menjadi motor bagi murid-muridnya untuk tetap menggali ilmu meskipun sang guru mendampingi. Selain itu, menjadi Invisible teacher juga harus terus dan mau memperbaiki diri dengan meningkatkan kualiatas ilmu dan cara mengajarnya. Dia harus menjadi teladan bagi murid-muridnya. Visinya bukan hanya mentrasfer ilmu yang ia miliki tetapi juga membuat anak didik dapat mengembangkan ilmu yang ditransfer. Bahkan lebih hebat dari gurunya.
Sejarah Indonesia juga mencatat banyak invisible teachers. Mulai dari Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan Nasional, Kartini dengan pendapatnya mengenai pentingnya pendidikan dan penyerapan teknologi Barat, BJ Habibi dan banyak lagi yang bisa kita ambil contoh. Seperti Yoshida yang penuh dengan keingitahuan, Kofusisus yang mengajarkan untuk lebih harmoni dan Muhammad Saw, sang teladan sejati adalah invisible teachers. Guru sepanjang masa yang ajarannya tak terlupakan. Menjadi guru teladan yang memberi semangat dan inspirasi untuk memperoleh ilmu yang lebih luas, meskipun tanpa harus ada sang guru. 

SAAT GURU MENJADI IDOLA


Saat ini guru menjadi topik yang paling seru untuk dibicarakan. Guru menjadi tema utama dalam rubrik di media massa. Ditambah lagi seminar-seminar pendidikan yang mengangkat tema tentang guru. Mulai dari profesionalitas, cara mengajar, bahkan universitas yang menyediakan fakultas keguruan menjadi serbuan. Selain itu, berita tentang demo yang dilakukan oleh guru juga menjadi berita hangat. Tak pelak, saat ini guru menjadi idola.
Apakah karena gaji besar yang dijanjikan? Atau pekerjaan yang memuliakan? Profesi guru menjadi salah satu yang diinginkan dan dicita-citakan oleh anak-anak muda saat ini. Bahkan, banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi guru. Hal ini terbukti, dari minat yang tinggi terhadap fakultas keguruan.
Namun sayang, saat guru menjadi idola ada sesuatu yang hilang. Prioritas menjadi guru hanyalah sebagai pekerjaan yang mudah didapat dan dapat  memberi gaji menjanjikan apalagi jika guru tersebut lulus sertifikasi profesi guru. Sebagaimana yang diungkapan oleh Anis Baswedan, pencetus Gerakan Indonesia Mengajar dalam dialog bersama Desi Anwar di salah satu televisi swasta (7/7/2012) “A teacher must be role model.  We don’t fight to get a job but we do fight to do this job”.  Keteladanan adalah hal yang mulai terkikis ketika guru bekerja hanya untuk uang. Pendapatan menjadikan profesi guru hanyalah sebatas pekerjaan untuk menyampaikan materi dari buku, memberi tugas dan nilai. Esensi utama seorang guru yaitu mendidik dengan keteladanan dinomor duakan.
Pendidikan berbasis karakter, sebuah  kebijakan Kementrian Pendidikan Nasional pada tahun 2011 diharapkan dapat menjadi tonggak dalam membangun karakter anak bangsa dan terwujudnya Indonesia Emas 2025. Pendidikan karakter ini dijabarkan dalam enam pilar karakter yang terdiri dari trustworthiness (kepercayaan), Respect (Respek), Responsibility (Tanggungjawab), Fairness (Keadilan), Caring (Peduli), Citizenship (Kewarganegaraan). Keenam pilar yang akan lebih mudah dibangun jika telah berdiri tegak dalam diri sang guru.
Saat guru menjadi idola maka guru adalah panutan. Guru akan digugu dan ditiru. Guru bukan hanya simbol pendidikan yang mentransfer ilmu dalam kelas. Lebih dari itu, guru harus mengalahkan ketenaran idola yang diidolakan para muridnya. Tapi sayangnya di Indonesia, guru tidak menjadi idola. Mirisnya, ada sebuah julukan bagi guru yaitu the killer. Guru adalah monster yang menakutkan. Peran idola lebih kini disandang oleh boys dan girls band, artis, aktor dan smeua yang tampil dalam kotak persegi empat yang disebut televisi.             Thomas L. Friedman menuliskan sebuah perbandingan antara anak-anak Cina dengan Amerika dalam tulisannya The World is Flat (2006) “saat ini di Cina, Bill Gates adalah Britney Spears. Di Amerika, Britneys Spears adalah Britney Spears, dan itulah masalah kita”. Kepedulian Friedman terhadap generasi di Amerika, seharusnya menyadarkan kita bagaimana keadaan anak-anak di Indonesia. Kecintaan anak-anak pada hiburan saat ini tampak lebih besar daripada kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, mutu pendidikan di Indonesia tidak akan meningkat secara signifikan. Berbeda halnya dengan Cina yang saat ini meroket menyaingi Amerika.
Contoh nyata dari keteladanan tampak dari guru terhebat Muhammad Saw. Sebagaimana yang tercantum dalam terjemahan  Q.S Al-Ahzab: 21 yang berbunyi “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…”. Rasulullah, sosok guru yang pengaruhnya dapat dirasakan hingga saat ini. Keteladanannya tidak hanya dicontoh oleh pengikut pada masanya tetapi juga diikut oleh orang-orang yang menjadikannya idola hingga saat ini. Hal ini membuktikan teladan dari guru adalah pilar paling utama sebelum enam pilar karakter tersebut. Pengaruh teladan yang tampak dari seorang guru dapat lebih mudah diterima daripada karakter yang hanya diajar lewat teori dari buku.
            Mengidolakan diri bagi guru bukanlah hal mudah disaat idola-idola dunia hiburan menjadi sebuah euphoria bagi anak-anak Indonesia. Anak-anak Indonesia lebih senang mendengarkan lagu-lagu popular seperti lagu Pop, K-Pop, Rock yang dinyanyikan idola mereka dari pada penjelasan guru mereka. Bahkan mereka tak segan berdandan ala sang idola. Cita-cita ingin jadi boysband atau girlsband, artis, aktor telah terframe kuat dalam pikiran mereka.
            Tetapi bukanlah tidak mungkin bagi guru untuk menjadi idola. Hanya diperlukan kerja keras, kreatifitas dan semangat untuk menjadi idola. Guru harus mengembalikan fitrah asli sebagai guru yaitu menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Berjuang dengan sungguh-sungguh dalam mendidik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa tekanan dan menjadi idola yang pantas untuk ditiru oleh anak-anak didiknya. 
            My teacher is my idol. Guruku idolaku. Saatnya guru menjadi idola. Idola yang selalu ditunggu kedatangannya untuk mengajar. Idola yang di gugu dan ditiru. Idola yang membawa Indonesia menjadi negara terdepan yang siap menyaingi negara maju di dunia. Saat guru menjadi idola maka bukan tidak mungkin Indonesia emas 2025 akan terwujud.

Saturday, April 7, 2012

Me in My Dreamworld


Bibir ini kembali merekah. Tersenyum indah. Disinari cahaya yang masuk melalui sela-sela jendela. Tetes demi tetes keringat jatuh karena panasnya matahari. Namun, hal itu tak mengurungkan niatku untuk terus bermimpi. Mengkreasikan hidup diduniaku. Dunia milikku. Aku pemeran utamanya disini. Terserah kata mereka. Mereka mau bilang jangan mimpi disiang bolong, bodohnya jadi penghayal, jangan meraih yang tidak pasti, sadar bahwa dunia tak seindah khayalan. Whatever. Karena duniaku indah, duniaku adalah milikku.
            Tinggi, putih dan bersih. Dia datang menghampiriku. Duduk disampingku dan berkata “It’s a nice day, isn’t it?”
            “Yup, a nice and beautiful day” Jawabku.
            “James.” Katanya memperkenalkan diri.
            “Ayu, nice to meet you.”
            “You too” Ujar James tersenyum. “What do you do?”
            “I am a student. How about you ?”
            James hanya tersenyum seolah menyembunyikan identitasnya. James berdiri, merentangkan kedua lengannya dan menghirup udara segar pagi hari.
            Byuuaaar. James, menghilang. Yang terdengar hanyalah suara ibu memanggil. “Ayu…Ayu…, cuci piring!”
            “Illusion, again” keluhku. Duniaku hilang…hilang karena suara Ibu. Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur dan menuju dapur. Cuci piring.
                                                            *****

            Mimpi itu indah. Namun seringkali orangtuaku marah, marah karena aku harus bangun. Bangun dari mimpiku. Dan hidup didunia nyata yang menyakitkan dan menyebalkan. Dunia nyata, dimana penuh dengan persaingan. Yang hebat yang menang. Tapi, Aku benci itu. Benci jika hidup harus biasa-biasa saja. Karena aku yakin kesuksesan seperti Bill Gates, Henry Ford, and James Watt adalah punya impian.
            “Kita harus realistis. Jangan mimpi terlalu tinggi entar kalo jatu sakit” celetuk Ariya, temanku.
            “Tapi mimpi membuat kita hidup” protesku.
            “Mimpi itu hanya membuat kita berharap, sedangkan hidup itu keras dimana kita harus berjuang untuk hidup” jelas arya.
            “Apakah salah kalau kita punya mimpi dalam hidup ini”
            “Ngga. Asalkan yang real aja.”
            “Real? Maksudnya?”
            “Mimpi yang dapat kita capai. Contohnya ketika tamat dari sini, kita jadi pegawai negeri. Setelah itu menikah dan hidup bahagia bersama anak dan suami kita. Itu mimpi.”
            “O…..” jawabku malas-malasan.
            “Mangnya apa mimpimu?”
            “Mimpiku adalah melanjutkan kuliah diluar negeri. Aku ingin jadi pembicara disetiap ajang seminar dan workshop. Menjadi guru yang disayangi murid, menjadi motivator bagi semua orang dan menikah dengan bule” ceritaku.
            “Hahahaha…” tawa Arya meledak. “Kawin dengan bule, mau memperbaiki keturunan?”
            Arya hanya menggubris pernyataan terakhirku menikah dengan bule. Arya pikir aku pasti gila, ingin kawin dengan bule makanya tertawa begitu lepas.
            “Lucu ya?” ujarku sambil menatap tajam kearah Arya.
            “Ya iyalah lucu. Apakah kamu tau setiap muslimah itu pasti bermimpi ingin menikah dengan laki-laki soleh yang dapat dijadiin imam dan alhamdulillah kalo suaminya ganteng dan tajir. Dan kamu, yu? Menikah dengan bule?”
            “Memang ga boleh?”
            “Bukan gak boleh, mustahil aja. Apalagi rata-rata bule itu non muslim. Apa lo mau nikah dengan laki-laki bukan Islam. Udah deh yang realistis aja, ngga usah muluk-muluk.” Kata Arya.
            “muluk-muluk?” kataku pelan.
****
            Indonesia adalah Negara kaya bahkan sangat kaya. Tetapi malangnya untuk belajar saja kami harus menyeret bangku dan bersempit-sempit riya. Aku heran, habis kemana sih biaya yang kami keluarkan? Kalau dalam ruangan yang luasnya sekitar 6x6 meter harus diisi 75 mahasiswa. Bagaimana Indonesia bisa advance, udah belajar dalam ruangan yang padat ditambah lagi mahasiswa yang statusnya agent of change ngga serius belajar. Ada yang facebookan, sms, ngerumpi dan berbagai macam aktifitas yang menghancurkan konsentrasi belajar. Pantas kalo Indonesia banyak hutang, toh generasi mudanya macam beginian.
            Daripada mikirkan calon-calon intelek Indonesia lebih baik aku kembali dalam duniaku. Dunia milikku. Aku mulai berpikir, kali ini tentang motivasi. Melihat kawan-kawanku tak serius belajar aku berkesimpulan mereka pasti orang biasa, yang ingin hidup biasa. Tanpa motivasi untuk hidup lebih baik. Entahlah, apakah mereka merasa hebat hanya sebagai penikmat. Mengekor pada barat bukannya belajar untuk menjadi hebat seperti barat layaknya Jepang dan Korea Selatan. Jepang di akui karena kehebatannya dalam teknologi sedangkan Korea Selatan diakui dunia karena pelayanan umum terbaik. Dan kini cina, yang produknya membanjiri Indonesia. Bagaimana dengan Indonesia?
            Oleh karena itu, aku senang hidup diduniaku. Karena ketika aku hidup dalam duniaku, aku ingin menjadi Bill Gates, aku ingin menjadi Henry ford, aku ingin menjadi seperti orang-orang sukses didunia. Namun, Idola utamaku tetap Muhammad, karena tak ada yang sehebat beliau didunia ini, yang rela disiksa demi umatnya. Mimpi Rasulullah hanya 1, islam jaya dimuka bumi.
            Muhammad saw, Bill Gates, Henry Ford dan orang-orang hebat dan sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka tak mungkin bisa menjadi hebat tanpa mimpi. Spekulasi yang bagus. Bicara tentang mimpi, mengingat orang-orang hebat membuatku semakn yakin ingin hidup diduniaku. Tanpa peduli kata orang tua, kakak dan teman-temanku. Bahwa mimpi harus yang muluk-muluk.
*****
            “Selamat, anda telah sampai di tahap wawancara. Tahap ini adalah tahap penentuan, karena dari sekian ribu pelamar hanya seratus yang samapai ditahap ini dan akan dipilih 20 sebagai penerima beasiswa.” Ujar penguji beasiswa didepanku.
            “Terima kasih, pak.” Jawabku.
            “Apa motivasi anda meng-apply beasiswa ini?” Tanyanya.
            “Dream.”
            Penguji itu terdiam, mungkin aneh mendengar jawabanku. Aku tahu dia pasti berpikir aku aneh, ataupun dia berpikir aku adalah orang yang bertele-tele. Terbukti dengan pertanyaan selanjutnya “Cuma itu.”
            “Itu yang pertama dan yang kedua adalah aku ingin menjadi motivasi buat murid-muridku. Aku ingin membuktikan bahwa ilmu tidak harus berakhir dibangku sekolah.”
            “Maksud anda?”
            “Life long learning.”
            “Oh..itukan bisa Anda dapatkan dimana saja bukan dibeasiswa ini.”
            “Memang benar pak. Tapi aku mengenal istilah learn and study dari bahasa inggris dan aku ingin belajar dinegeri asal muasal kata ini berasal. Pasti mereka punya alasan mengapa ada learn dan study.”
            Aku melihat kepusingan di wajah penguji itu. Apakah dia pusing dengan jawabanku atau he got my point. Tapi kali ini yang kutahu hanya pasrah, karena yang harus kulakukan kali ini tinggalah tawakal.