RSS

Tuesday, January 31, 2012

Subuh oh Subuh


Subuh di surau kecil gang kami hari ini..
            Satu per satu pintu terbuka. Tampak sekelibat wanita bertudung putih menutupi dadanya keluar dari rumah-rumah mereka. Saling senyum dan menyapa. Kemudian memuji subuh yang cerah penuh bintang yang tersebar dilangit biru bersih tanpa awan. Itulah realita subuh di gang ku. Gang kecil yang menyimpan surau kecil didalamnya.
            Tergopoh-gopoh pak tua itu berlari, “maaf, telat” desahnya. Dengan cekatan ia langsung menuju mimbar, menghidupkan sound system dan mengumandangkan adzan. Ia adalah laki-laki pertama yang datang di surau ini setelah ketiga ibu tadi dan seorang anak perempuan dari salah satu ibu tersebut. Adzan pun mengalun dengan indah dan merdu di surau kecil di dalam gang kami yang hanya memanggil dan mendatangkan seorang bapak untuk menjadi makmum dari pak tua.
            Hari ini hanya enam orang yang hadir untuk melaksanakan sholat subuh di surau. Satu imam, satu makmum laki-laki dan empat makmum perempuan. Dan dimanakah para pemudanya? Padahal sudah jelas bahwa sholat berjamaah sangat utama apalagi sholat subuh.
“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-hambaKu ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]
            Tetapi inilah realita. Rumah Allah kini hanya berisi segelintir orang tua. Padahal rutinitas pagi hari diawali dengan solat subuh. Aku teringat peristiwa jebolnya “Situ Gintung”. Peristiwa itu terjadi saat subuh dan Subhanallah ada sebuah surau tak jauh dari situ gintung yang tetap berdiri kokoh dan menyelamatkan jamaah yang sedang melaksanakan sholat.
“Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)    
           Sholat Subuh adalah  shalat wajib yang paling sedikit jumlah rakaatnya tetapi luar biasa manfaatnya. Sholat subuh juga menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran dan kemalasan karena waktunya  yang sangat sempit (sampai matahari terbit). Mari membiasakan diri untuk berjamaah Sholat subuh karena ketika meninggalkannya itu berarti ada sesuatu yang bermasalah pada diri kita. Malas dan lebih menyukai berdiam diri di rumah adalah hal yang tak di sukai Allah. Selain itu hal ini dapat menurunkan tingkat keimanan kita.

Friday, January 27, 2012

Antara Buku dan Axe

           Aneh tapi inilah kenyataan yang terjadi. Pandangan pertama terhadap sesuatu selalu menjadi nilai plus. Tetapi, nilai plus akan pudar ketika pepatah ini menyelisik ke celah-celah sanubari. "Don't judge a  book from the cover". Jangan pernah menilai sesuatu dari luarnya. Pepatah yang rajin mampir ditelinga hingga menjadi sebuah frame yang melekat kuat dalam pikiran. 
       Aku teringat dengan seorang seniorku di ESA. Beliau menjelaskan pepatah ini dengan menggambarkan kesederhanaan Mahatma Gandhi dan Wibawa Soeharto. Ya.. begitulah, tidak ada yang bisa menyangka seorang Mahatma gandhi yang biasa menggunakan sendal jepit tak disangka tak diduga menjadi orang yang sangat berpengaruh dan dinobatkan menjadi pejuang anti kekerasan di India dan mendapatkan Nobel perdamaian dunia. Bagaimana dengan Soeharto yang menggunakan kemeja, jas, berdasi dan sepatu hitam mengkilap? Ia dan antek-anteknya dikenal sebagai penjarah kekayaan Indonesia dan efeknya dapat kita rasakan hingga saat ini. 
           Itu adalah sebuah gambaran mengapa kita tidak boleh menilai seseorang dari tampilan luar. Contoh lainnya adalah Alm. Syeikh Ahmad Yasin, pemimpin Hamas, seorang tua dikursi roda yang gigih melawan israel. Karismanya membuat geger barisan Israel dari darat hingga udara. 
          Tapi disisi lain, kita juga tidak boleh lupa pada penampilan karena pesan dari iklan axe juga dapat dibenarkan "Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda". Layaknya dua sisi mata uang tak terpisahkan, kesan pertama dan isi adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Penampilan adalah citra yang menandakan kesan pertama sedangkan isi adalah harta terpendam yang akan ditemui seiring waktu berjalan. Penampilan yang baik bukan hanya dinilai dari pakaian yang parlente tetapi dari kebersihan dan keramahan yang tampak. Begitu pula isi dalamnya, tidak hanya asbun (asal bunyi), salmon (Intelektual KAgetaN aSAL ngoMONg) ataupun ikan teri (Intelektual KAgetaN TERIak sanA SINi). Ckckck, ngga banget.. 
         Oleh karena itu ambillah kedua pepatah itu, jangan menjadikan salah satu diantara pepatah tersebut sebagai alasan untuk melarikan diri dari kenyataan. Yang penampilan OK selalu mengatakan bahwa kesan pertama Coy sedangkan yang penampilan amburadur selalu mengatakan don't judge a book from the cover sob. So.. antara buku dan axe mana yang anda pilih?